Minggu, 05 September 2010

Bergabung dengan kafilah Mujahidin…!







By:

Abu Mush‘ab Al-Zarqawy


 



Judul Asli: Petikan khutbah berjudul Ilhaq bil Kafilah
Oleh       : Syaikh Al-Qo’id, Abu Mus‘ab Al-Zarqawiy
Sumber  :  www.tauhid.ws
                   www.almaqdese.com
                   www.alsunnah.info

Judul Terjemahan:
Joint with a caravant, bergabung dengan kafilah mujahidin…

Penerjemah:
Abu Mortar Al-Jatimiy

Editor:
Ibnu Akka‘ Al-Kalansyiqi

Lay Out:
Team Al-Muharridh

PENERBIT AL-MUHARRIDH
Cetakan Pertama, Shofar 1426 H

© All raight reserved
Dilarang memperbanyak tanpa seizin penerbit, kecuali untuk tujuan non komersil.










PENGANGTAR PENERJEMAH

Segala puji bagi Alloh, robb seru sekalian Alam. Sholawat dan salam semoga tercurah selalu kepada Nabi kita Muhammad, dan kepada seluruh shahabat, keluarga serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan kebaikan hingga hari kiamat.
Ammaa Ba‘du…
Siapa yang tidak kenal nama Abu Mus‘ab Az-Zarqawi? Buronan perang Irak asal Yordania paling ditakuti Amerika serikat yang konon kepalanya dihargai 25 juta US itu.
Memang, selama ini aksi-aksi yang ia lakukan bersama anak buahnya sangat membuat bulu kuduk berdiri; mulai dari pemenggalan orang-orang asing dan lokal yang pro barat, sampai operasi-operasi bom bunuh diri. Hari ini, hampir tidak ada aksi serangan yang terjadi di Irak kecuali beliaulah yang mengaku bertanggung jawab.
Namun, benarkah beliau memang sosok pembunuh berdarah dingin? Lantas mengapakah reporter MetrotTV mengaku diperlakukan sangat baik ketika menjalani masa penculikan, yang ini sangat jauh dengan kelakuan a moral tentara AS dan Inggris di penjara Abu Ghorib dalam memperlakukan tawanan?
Sebaiknya kita tidak terburu-buru memvonis beliau dengan cap yang bukan-bukan dahulu. Dalam petikan khutbah berbahasa arab yang kami Down Load dari site Mimbar tauhid wal Jihad kali ini, anda kami ajak untuk menyimak dasar pemikiran beliau, menyelami kapasitas ilmu syar‘i beliau yang ternyata cukup amat dalam. Sehingga, kita bisa sedikit adil dalam menilai aksi-aksi beliau beserta para pengikutnya yang oleh dunia dianggap sebagai aksi terorisme tak berperi kemanusiaan.
Nanti, insya Alloh kita akan mengerti, siapa sebenarnya teroris dan siapa sebenarnya orang yang komitmen memegang ajaran agama Islam-nya.
Semoga dengan khutbah beliau ini, bisa menggugah ketertiduran umat yang sudah terlampau amat panjang, walaupun kata-kata saja kadang tidak cukup untuk melakukan hal itu.
Wal akhir, hasbunalloh wa ni‘mal wakil,  cukuplah Alloh sebagai pelindung kita.


       Bumi Alloh, Shofar 1426 H

Penerjemah,
Abu Mortar Al-Jatimy


Bismillahirrohmanirrohim

Segala puji bagi Alloh; kami memuji, meminta pertolongan dan ampunan kepada-Nya, dan kami berlindung kepada Alloh dari kejahatan diri serta keburukan amal perbuatan kami. Siapa yang diberi petunjuk oleh Alloh, maka tidak ada seorangpun mampu menyesatkannya, dan siapa yang Alloh sesatkan maka tidak ada seorangpun yang bisa memberinya petunjuk. Dan aku bersaksi bahwa tidak ada ilah (yang haq) selain Alloh; satu-satu-Nya dan tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rosul-Nya; beliau telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah dan menasehati umat, serta meninggalkan mereka di atas mahajjatul baidho’ (keterangan yang sangat jelas), malamnya seperti siang, tidak ada yang menyimpang dari keterangan tersebut kecuali orang yang binasa.
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Alloh dengan sebenar-benarnya takwa dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan Islam.”[1]
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada robb kalian yang telah menciptakan kalian dari satu jiwa dan menciptakan darinya pasangannya serta mengeluarkan dari keduanya keturunan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kalian kepada Alloh yang (dengan menyebut nama-Nya) kalian saling meminta serta (peliharalah) tali silaturrohmi. Sesungguhnya Alloh Mahamengawasi kalian.” [2]
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Alloh dan katakanlah perkataan yang lurus. Niscaya Alloh akan memperbaiki amal kalian serta mengampuni dosa-dosa kalian, dan barangsiapa yang mentaati Alloh dan rosul-Nya maka sungguh ia telah meraih kemenangan yang besar.” [3]

Amma ba‘du…

Bisa saja Alloh mengumpulkan dua makhluk yang terpisah setelah…
keduanya sama sekali tidak menyangka untuk berjumpa kembali…

Kepada ikhwan-ikhwan se-manhaj, rekan-rekan seperjuangan dan teman-teman setia dalam satu semangat…

Aku berbicara kepada kalian ketika kerinduan dan keinginan untuk berjumpa mendorong diriku, berharap semoga Alloh menyatukan kembali kekompakan kita, semoga semuanya berjalan satu arah lagi seperti dulu, di atas ketaatan kepada Alloh dan jihad di jalan-Nya.

Aku berbicara kepada kalian sembari menunggu hari di mana kalian menyambung kembali tali cinta yang pernah kita jalin dan membangun kembali bangunan ukhuwah kita pada masa lampau.

Inilah ungkapan rasa cintaku kepada kalian, wahai ikhwan-ikhwanku, yang tidak bisa ditutup-tutupi lagi…
Bagaimana akan menutupinya sementara setiap mata berbicara,
menyampaikan kecintaan karena Alloh Yang Maha tinggi, mencintai kalian dengan…
kecintaan yang terpancar dari rongga-rongga hatiku
Setiap orang ada tempatnya dalam hatiku
Ia melapangkan hati ini di saat dalam suasana sempit

Aku berbicara kepada kalian ketika orang yang mendapatkan taufik semakin sedikit, orang yang mau menolong semakin sulit dicari, luka-luka semakin banyak, kondisi semakin genting, ketika tangan-tangan kematian menyambar banyak sekali pekuda-pekuda handal dan pahlawan-pahlawan pilihan.

Alloh tidak memberikan semua itu untuk kita sekarang karena sebuah hikmah yang Alloh saja yang mengetahui.

Kami berjanji kepada Alloh SWT, dan kepada kalian semua, untuk terus menjadikan thoghut-thaghut itu berduka, menjadi pedang yang berlumuran darah pada leher orang-orang dzalim, menjadi tentara Islam yang melindungi wilayahnya. Kami menganggap mudah segala kesulitan di atas jalan tersebut, dan kami menganggap nyawa kami murah sampai Alloh memenangkan Islam atau kami mati karenanya.

Aku berbicara kepada kalian dalam kondisi kasihan dan ingin memberikan nasehat, aku sedih dan heran mengapa orang-orang seperti kalian harus ketinggalan untuk bergabung dengan kafilah jihad ini? kalian menterlambatkan diri untuk memperpan-jang kehidupan, kebanyakan kalian keberatan untuk keluar berperang, padahal si salib telah datang dan masuk ke tempat kalian dengan pasukan berkuda dan pejalan kakinya, serta membidik kalian dari satu busur anak panah.

Di mana gerangan cerita tempo dulu? Masih adakah pelita di tengah gelapnya malam? Di manakah luka-luka yang setiap hari menganga? Di manakah teriakan orang-orang yang merindukan medan jihad, merindukan surga dan bidadari?!!

Relakah kalian menjadi contoh yang buruk?!

Alloh Ta‘ala berfirman:
{أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِيْنَ قِيْلَ لَهُمْ كُفُّوْا أَيْدِيَكُمْ وَأَقِيْمُوا الصَّلاَةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ إِذَا فَرِيْقٌ مِّنْهُمْ يَخْشَوْنَ النَّاسَ كَخَشْيَةِ اللهِ أَوْ أَشَدَّ خَشْيَةً وَقَالُوْا رَبَّنَا لِمَ كَتَبْتَ عَلَيْنَا الْقِتَالَ لَوْلاَ أَخَّرْتَنَا إِلىَ أَجَلٍ قَرِيْبٍ قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيْلٌ وَاْلآخِرَةُ خَيْرٌ لِمَنِ اتَّقَى وَلاَ تُظْلَمُوْنَ فَتِيْلاً * أَيْنَمَا تَكُوْنُوْا يُدْرِكْكُمُ اْلمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِيْ بُرُوْجٍ مُشَيَّدَةٍ}.


“Tidakkah engkau perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: Tegakkanlah sholat dan tunaikanlah zakat; tapi tatkala diwajibkan atas mereka untuk berperang ternyata sebagian mereka takut kepada manusia seperti takut kepada Alloh, bahkan lebih takut, dan mereka mengatakan: Wahai robb, mengapakah Engkau wajibkan berperang atas kami, seandainya saja Engkau tunda ajal kami yang dekat. Katakanlah (Hai Muhammad): Harta benda dunia itu hanyalah sedikit dan akhirat itu lebih baik bagi orang yang bertakwa dan kalian tidak akan dianiaya sedikitpun. Di manapun kalian berada, kematian akan tetap mendatangi kalian, walaupun kalian berada di benteng yang kokoh…” [4]

Lihatlah Amerika, datang dengan apa saja yang mereka miliki, dengan kesombongan dan keangkuhannya, menentang Alloh dan rosul-Nya. Ke manakah singa-singa pilihan? Di manakah kuda-kuda perang? Ke manakah para pahlawan tauhid dan perwira-perwira penyandang akidah Islam ?!
{هَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ أَنْ لاَ تُقَاتِلُوْا قَالُوْا وَمَالَنَا أَلاَّ نُقَاتِلَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِنْ دِيَارِنَا وَأَبْنَائِنَا فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ تَوَلَّوْا إِلاَّ قَلِيْلاً مِّنْهُمْ وَاللهُ عَلِيْمٌ بِّالظَّالِمِيْنَ}
“…bisa jadi jika kalian diwajibkan untuk berperang lantas kalian tidak mau berperang? Mereka berkata: Mengapa kami tidak mau berperang padahal kami telah diusir dari tempat tinggal dan anak-anak kami?. Tapi tatkala diwajibkan kepada mereka untuk berperang, mereka berpaling kecuali sedikit saja dari mereka, dan Alloh Mahamengetahui orang-orang yang dzalim.” [5]

Para imam kita terdahulu mengatakan: “Jika engkau ingin mengetahui kedudukan dirimu, maka lihatlah di mana kamu diposisikan oleh kebenaran.”

Maka beruntunglah orang yang diposisikan oleh Alloh pada posisi jihad, pada posisi mampu melancarkan kerugian kepada musuh serta mengobarkan semangat manusia untuk melakukannya.
Alloh Ta‘ala berfirman:
:{فَقَاتِلْ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ لاَ تُكَلَّفُ إِلاَّ نَفْسَكَ وَحَرِّضِ اْلمُؤْمِنِيْنَ عَسَى اللهُ أَنْ يَّكُفَّ بَأْسَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَاللهُ أَشَدُّ بَأْساً وَأَشَدُّ تَنْكِيْلاً}
“Maka berperanglah di jalan Alloh, kamu tidak dibebani kecuali dirimu sendiri, semoga saja Alloh menolak keganasan orang-orang kafir, dan Alloh itu lebih dahsyat kekuatan dan adzab-Nya.” [6]
Alloh Ta‘ala juga berfirman:
{يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَرِّضِ اْلمُؤْمِنِيْنَ عَلَى اْلقِتَالِ}
“Wahai Nabi, kobarkanlah semangat kaum mukminin untuk berperang…” [7]
Alloh Ta‘ala juga berfirman:
{يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلىَ تِجَارَةٍ تُنْجِيْكُمْ مِّنْ عَذَابٍ أَلِيْمٍ تُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ وَتُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَالِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَااْلأَنْهَارُوَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِيْ جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَالِكَ اْلفَوْزُ اْلعَظِيْمُ وَأُخْرَى تُحِبُّوْنهَاَ نَصْرٌ مِّنَ اللهِ وَفَتْحٌ قَرِيْبٌ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِيْنَ}
“Hai orang-orang yang beriman, maukah Kutunjukkan kepada kalian perniagaan yang bisa menyelamatkan kalian dari adzab yang pedih? Kalian beriman kepada Alloh dan rosul-Nya dan kalian berjihad di jalan Alloh dengan harta dan nyawa kalian. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui. Alloh akan mengampuni dosa-dosa kalian serta memasukkan kalian ke dalam surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai dan tempat tinggal tempat tinggal yang baik di surga ‘Adn, itulah kemenangan yang besar. Dan ada sebagian lain yang kalian sukai, yaitu pertolongan dari Alloh serta kemenangan yang dekat, dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.” [8]
Ibnu Majah meriwayatkan dari Kuraib, bahwasanya ia mendengar Usamah bin Zaid mengatakan: Rosululloh SAW bersabda: “Adakah yang berlomba-lomba menuju surga? Sesungguhnya surga itu tidak pernah terbayang sebelumnya. Demi robb ka‘bah, ia adalah cahaya yang berkilauan, aroma wangi nan semerbak, istana yang menjulang, sungai yang terbentang, buah-buahan yang matang, isteri yang cantik jelita, perhiasan yang melimpah, tempat tinggal yang abadi di negeri yang damai, buah dan hijau-hijauan, kebahagiaan dan kenikmatan di tempat yang tinggi lagi megah.” Para shahabat menyambut: “Baiklah wahai Rosululloh, kami orang-orang yang berlomba-lomba ke sana.” Beliau bersabda: “Ucapkanlah: Insyaa Alloh,”  maka orang-orangpun mengatakan: “Insyaa Alloh.”

Setelah itu Rosululloh bercerita tentang jihad dan memberikan dorongan kepadanya.

Di dalam sebuah hadits mauquf bersumber dari ‘Ali bin Abi Tholib ra, disebutkan bahwa beliau mengatakan: “Barangsiapa yang mengobarkan semangat saudaranya untuk berjihad, ia memperoleh pahala seperti pahalanya, dan setiap langkah yang ia lakukan untuk itu bernilai seperti ibadah satu tahun.”

Kemenangan tidak akan akan datang begitu saja, wahai kaumku…
Kecuali dengan generasi yang banyak berkorban lagi pemberani
Bergeraklah kalian dan sambutlah seruan ini, tidak ada kata senang  dalam suasana sengsara
Sesungguhnya batang pohon itu dari Mekkah sedangkan dahannya adalah kaum Anshor
Dan panji tauhid senantiasa akan berkibar
Selalu terasah tajam dan di tempa di atas api…

Sungguh kita merasa sangat pedih dan sakit hati, ketika kita menyaksikan ibadah jihad ini yang bekasnya terhapus sehingga tidak terlihat lagi, cahayanya telah padam di tengah para makhluk, malam yang tadinya terang oleh rembulan berubah menjadi gelap, siangnya menjadi petang setelah tadinya penuh cahaya, dahan-dahannya layu setelah tadinya segar penuh dedaunan, pancaran keelokannya sirna setelah tadinya bersinar, pintu-pintunya tertutup sehingga tidak bisa dibuka lagi, sarana-sarananya dibelenggu sampai tidak bisa keluar, kuda-kudanya tertahan sehingga tidak lagi berpacu, singa-singanya hanya terduduk dan tidak mau bangkit, sementara tangan-tangan hina milik orang-orang kafir telah menggeranyangi kaum muslimin dan tidak mau ditarik lagi, pedang-pedang tidak lagi terhunus kepada musuh-musuh agama disebabkan sikap menuruti dorongan hidup santai dan aman, lidah yang biasanya memanggil kaum beriman untuk keluar berperang telah membisu, pesta-pesta perkawinan menyambut orang yang mati syahid tinggallah kenangan, sebab tidak ada lagi orang yang mau mengajukan lamaran, manusia telah meremehkan urusan jihad, seolah mereka bukan orang yang diperintah untuk melaksanakannya.

Tinggallah yang kita lihat tersisa hanya orang yang mengakhiri  kegiatan jihadnya, atau condong kepada kenikmatan dunia yang fana karena sudah tidak tertarik lagi dengan jihad, atau meninggalkan jihad karena takut menghadapi kematian, atau berpaling dari jihad dengan bersikap kikir berinfak dan tamak, atau tidak berjihad karena tidak mengerti pahala besar yang terkandung di dalamnya, atau meninggalkan jihad karena lebih senang dengan kehidupan dunia daripada akhirat, padahal:
{وَمَا مَتَاعُ اْلحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي اْلآخِرَةِ إِلَّا قَلِيْل}
“Tidaklah kehidupan dunia itu dibandingkan akhirat kecuali hanya sedikit saja…” [9]

Ikhwan-ikhwan ku se-akidah…

Mau beralasan apa lagi kalian, padahal kalian adalah orang-orang yang mengerti kebenaran? Wahai orang-orang jujur, apakah gerangan yang menjadikan kalian tetap duduk-duduk saja?
Keluarga?
Anak-anak?
Tempat tinggal?
Alloh Ta‘ala berfirman:
{قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيْرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اِقْتَرَفْتُمُوْهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِّنَ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَجِهَادٍ فِيْ سَبِيْلِهِ فَتَرَبَّصُوْا حَتَّى يَأْتَيَ اللهُ بِأَمْرِهِ وَاللهُ لاَ يَهْدِي اْلقَوْمَ الْفَاسِقِيْنَ}.
“Katakanlah (Hai Muhammad): Jika ayah-ayah kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, isteri-isteri kalian, keluarga kerabat kalian, harta benda yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya, dan tempat tinggal-tempat tinggal yang kalian sukai, itu lebih kalian cintai daripada Alloh, rosul-Nya dan jihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Alloh datangkan ketetapan-Nya. Dan Alloh tidaklah memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” [10]

Penulis Masyari‘ul ‘Usyyaq [11] berkata: “Peringatan, warning dan ancaman yang terdapat dalam ayat mulia ini sangat cukup bagi mereka yang meninggalkan jihad karena keengganan terhadapnya serta lebih senang dengan keluarga dan hartanya. Maka ambillah pelajaran wahai orang-orang yang berpandangan jeli!”

Alloh Ta‘ala berfirman:
{يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا مَالَكُمْ إِذَا قِيْلَ لَكُمُ انْفِرُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلىَ اْلأَرْضِ أَرَضِيْتُمْ بِّاْلحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ اْلآخِرَةِ فَمَا مَتَاعُ اْلحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي اْلآخِرَةِ إِلاَّ قَلِيْلٌ}
“Hai orang-orang yang beriman, mengapakah jika dikatakan kepada kalian: Keluarlah untuk berperang di jalan Alloh; kalian merasa condong kepada dunia? Apakah kalian lebih menyukai kehidupan dunia daripada akhirat? Padahal harta benda dunia itu dibandingkan akhirat sangatlah sedikit.” [12]

Al-Qurthubi Rahimahulloh berkata: “Ini adalah celaan terhadap sikap tidak mau berjihad dan cercaan atas sikap duduk-duduk dari bersegera keluar untuk berperang; firman Alloh: “…itstsaaqoltum…” artinya condong kepada kenikmatan dunia dan tinggal di dunia.”

Alloh Ta‘ala berfirman:
{فَرِحَ اْلمُخَلَّفُوْنَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلاَفَ رَسُوْلِ اللهِ وَكَرِهُوْا أَنْ يُجَاهِدُوْا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ وَقَالُوْا لاَ تَنْفِرُوْا فِي اْلحَرِّ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرّاً لَوْ كَانُوْا يَفْقَهُوْنَ * فَلْيَضْحَكُوْا قَلِيْلاً وَلْيَبْكُوْا كَثِيْراً جَزَاءً بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ * فَإِنْ رَّجَعَكَ اللهُ إِلىَ طَائِفَةٍ مِّنْهُمْ فَاسْتَأْذَنُوْكَ لِلْخُرُوْجِ فَقُلْ لَنْ تَخْرُجُوْا مَعِيَ أَبَدًا وَلَنْ تُقَاتِلُوْا مَعِيَ عَدُوًّا إِنَّكُمْ رَضِيْتُمْ بِّاْلقُعُوْدِ أَوَّلَ مَرَّةٍ فَاقْعُدُوْا مَعَ اْلخَالِفِيْنَ * وَلاَ تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِّنْهُمْ مَّاتَ أَبَداً وَلاَ تَقُمْ عَلَى قَبْرِهِ إِنَّهُمْ كَفَرُوْا بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ وَمَاتُوْا وَهُمْ فَاسِقُوْنَ}.
“Orang-orang yang tidak ikut jihad itu merasa senang dengan kedudukan mereka di belakang Rosululloh dan mereka tidak suka untuk berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Alloh serta mengatakan: Janganlah kalian keluar berperang di bawah terik panas! Katakanlah (Hai Muhammad): Neraka Jahannam itu jauh lebih panas kalau mereka tahu. Maka hendaklah mereka sedikit tertawa (di dunia) dan banyak menangis (di akhirat), sebagai balasan atas apa yang mereka usahakan. Jika Alloh telah kembalikan kamu kepada segolongan dari mereka kemudian mereka meminta izin kepadamu untuk ikut keluar, maka katakanlah: Kamu tidak akan pernah keluar bersamaku selamanya dan kamu tidak akan pernah memerangi musuh bersamaku, sesungguhnya kamu lebih menyukai duduk-duduk pada kali pertama, maka duduk-duduk sajalah kamu bersama orang yang tidak ikut jihad. Dan janganlah Engkau (wahai Muhammad) mensholatkan salah seorang dari mereka dan jangan pula menguburkan mereka, sesung-guhnya mereka telah kufur kepada Alloh dan rosul-Nya serta mati dalam keadaan fasik.” [13]

Perhatikanlah ancaman yang sangat keras ini wahai saudaraku –semoga Alloh merahmati Anda—, lihatlah kehinaan yang sangat hina dan siksaan yang pedih bagi orang yang tidak mau berjihad, enggan melaksanakannya serta tidak mau berinfak untuknya.

Meskipun ayat-ayat ini turun mengenai kelompok manusia tertentu, tetapi ia mengandung peringatan dan ancaman bagi orang yang melakukan kelakuan seperti kelakuan mereka, tidak mau berjihad yang hukumnya wajib seperti tidak mereka juga tidak berjihad. Belum lagi tidak ikut berjihad sendiri adalah perkara yang sangat tercela, belum lagi membicarakan janji ancaman yang sebegitu mengerikan, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaaah, tiada daya dan kekuatan kecuali bersama Alloh.

Adakah kehinaan lagi setelah kehinaan ini?!

Bertakwalah kalian kepada Alloh dan takutlah akibat buruk yang akan menimpa orang yang tidak mau melaksanakan perintah-Nya.

Penulis Masyaari‘ul ‘Usysyaaq berkata lagi:
“Hai orang yang enggan melaksanakan jihad yang diwajibkan kepadanya… Hai orang yang meninggalkan jalan-jalan menuju taufik dan kelurusan…ketahuilah pada hakikatnya engkau telah biarkan dirimu untuk menerima laknat dan terjauh dari rahmat…dan demi Alloh kamu telah menghalangi dirimu sendiri untuk memperoleh kebahagiaan berupa tercapainya sesuatu yang diinginkan semua orang.”

Seandainya saja aku boleh tahu, apa sebenarnya yang menjadikan Anda tidak mau maju berperang dan terjun ke kancah pertempuran para pahlawan? Mengapakah Anda merasa sayang untuk berinfak di jalan Alloh dengan nyawa dan harta? Bukankah penyebabnya tidak lain adalah panjangnya angan-angan? Atau, takut datangnya ajal? Atau takut berpisah dengan keluarga dan harta yang dicintai? Atau anak, pembantu dan kerabat? Atau saudara kandung? Atau famili yang menyayangi Anda? Atau shahabat yang baik? Atau kawan akrab? Atau kecintaan terhadap isteri yang cantik? Atau kedudukan yang menghadang? Atau jabatan yang tinggi? Atau istana yang megah? Ataukah tempat berteduh yang membentang? Atau pakaian yang mewah dan makanan yang lezat? Tidak ada yang membuatmu untuk duduk dari berjihad selain perkara-perkara ini, tidak ada perkara lain yang menjauhkan dirimu dari Alloh, tuhan semua hamba.

Demi Alloh, tidak selayaknya semua ini terjadi pada dirimu, wahai saudaraku. Tidakkah engkau mendengar firman Alloh Ta‘ala:
{يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا مَالَكُمْ إِذَا قِيْلَ لَكُمُ انْفِرُوْا فيِ سَبِيْلِ اللهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلىَ اْلأَرْضِ أَرَضِيْتُمْ بِاْلحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ اْلآخِرَةِ فَمَا مَتَاعُ اْلحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي اْلآخِرَةِ إِلاَّ قَلِيْلٌ}
“Hai orang-orang yang beriman, mengapakah jika dikatakan kepada kalian: Keluarlah untuk berperang di jalan Alloh; kalian merasa condong kepada dunia? Apakah kalian lebih menyukai kehidupan dunia daripada akhirat? Padahal harta benda dunia itu dibandingkan akhirat sangatlah sedikit.” [14]

Simaklah  dengan seksama keterangan-ketera-ngan yang akan kutuliskan untukmu, dengarkanlah bukti-bukti nyata yang kusampaikan kepadamu supaya engkau mengerti bahwa semua yang menjadikan kalian tidak ikut dalam jihad tak lain justeru menjadikanmu  terhalangi dari kebaikan, yang menghalangimu untuk ikut berjihad itu tidak lain adalah nafsu dan syetan.

Adapun perasaan senang kalian dengan panjangnya angan-angan, takut datangnya kematian, menghindari maut yang pasti akan tiba, serta sayang untuk melewati jalan yang harus ditempuh, maka saya katakan: Demi Alloh, maju perang tidaklah mengurangi jatah umur orang yang terjun ke sana, sebagaimana mundur darinya tidak menambah jatah umur orang yang melambat-lambatkan diri,
{وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَلاَ يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَلاَ يَسْتَقْدِمُوْنَ}
“Dan tiap-tiap umat itu ada ajalnya, jika tiba ajal mereka maka tidak akan ditunda atau dimajukan sesaatpun.” [15]

وَلَنْ يُّؤَخِّرَ اللهُ نَفْساً إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللهُ خَبِيْرٌ بمَِا تَعْمَلُوْنَ}،
“Dan Alloh tidak akan menunda ajal apabila telah sampai pada suatu jiwa. Dan Alloh Mahamengetahui apa yang kalian kerjakan.”[16]

{كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ اْلمَوْتِ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ}
“Setiap jiwa pasti merasakan kematian, kemudian kepada Kami-lah kalian akan dikembalikan.”[17]

Wahai para ‘ahli fatwa’, sesungguhnya dalam kematian nanti ada masa-masa sekarat. Sungguh, pemandangan ketika itu sangatlah mengerikan, akan tetapi kalian tidak menyadari. Sungguh, di alam kubur nanti akan ada siksaan di mana hanya orang-orang sholeh saja yang selamat. Sungguh, di sana ada pertanyaan dua malaikat yang akan menguji,
{يُثَبِّتُ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا بِاْلقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفيِ اْلآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللهُ الظَّالِمِيْنَ وَيَفْعَلُ اللهُ مَا يَشَاءُ}
“Alloh meneguhkan orang-orang beriman dengan perkataan yang kokoh, baik ketika dalam kehidupan dunia maupun akhirat, dan Alloh menyesatkan orang-orang yang dzalim ser-ta mengerjakan apa saja yang Dia kehendaki.” [18]

Setelah marabahaya besar ini, hanya ada dua kemungkinan: Menjadi orang yang bahagia menuju kenikmatan abadi, atau celaka menuju adzab di neraka Jahim.

Adapun orang yang mati syahid, ia aman dan tidak akan pernah takut lagi menghadapi semua marabahaya ini, karena Rosululloh SAW telah bersabda,
(لاَ يَجِدُ الشَّهِيْدُ مِنْ أَلَمِ اْلقَتْلِ إِلاَّ كَمَسِّ اْلقَرْصَةِ)
“Orang yang mati syahid tidaklah merasakan sakitnya kematian kecuali hanya seperti digigit semut.”

Apa lagi yang masih membuatmu –wahai saudaraku— tidak mau mengambil kesempatan emas ini? Setelah ini berhasil engkau raih, engkau akan terlindungi dari siksa kubur, engkau akan beruntung di sisi Alloh dengan memperoleh tempat kembali yang terbaik, engkau aman di saat menghadapi pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir dan aman dari kengerian-kengerian dan setelahnya. Orang yang mati syahid adalah hidup dan diberi rezeki di sisi robbnya, mereka tidak lagi takut dengan apa yang akan dihadapi dan tidak pula bersedih terhadap apa yang ia tinggalkan, mereka bergembira dengan kelebihan yang Alloh berikan kepada mereka, dan mereka akan menerima kabar gembira, roh mereka berada pada tembolok burung hijau yang berkeliaran sesukanya di ‘Illiyyiin (surga yang tinggi). Duhai alangkah jauh perbedaan kematian yang mulia ini dengan kematian biasa yang begitu pedih.

Jika rezeki itu sudah ditentukan pembagiannya,
Alangkah baiknya jika manusia tidak berambisi mengejarnya
Jika harta dikumpulkan untuk ditinggal juga,
mengapa manusia bakhil dengan benda yang akan ditinggal
Jika dunia dianggap barang berharga,
nilai pahala Alloh lebih tinggi dan lebih mulia
Jika tubuh dicipta untuk menjemput kematian,
Lebih baik terbunuh karena Alloh dengan pedang

Alloh Ta‘ala berfirman:
{يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا مَنْ يَّرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْنِهِ فَسَوْفَ يَأْتِ اللهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى اْلمُؤْمِنِيْنَ أَعِزَّةٍ عَلَى اْلكَافِرِيْنَ يجُاَهِدُوْنَ فيِ سَبِيْلِ اللهِ وَلاَ يَخَافُوْنَ لَوْمَةَ لاَ ئِمٍ ذَالِكَ فَضْلُ اللهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَاءُ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ}
“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kalian yang murtad dari agamanya, maka Alloh akan datangkan satu kaum yang Alloh cinta kepada mereka dan merekapun cinta kepada Alloh, mereka lembut kepada sesama orang beriman dan keras terhadap orang-orang kafir, mereka berjihad di jalan Alloh serta tidak takut akan celaan orang yang mencela. Itulah anugerah Alloh yang Dia berikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dan Alloh itu Mahaluas lagi Mahamengetahui.”[19]

Dalam konteks ayat ini, sebab kemurtadan itu adalah sikap loyal (ber-wala’) dan cenderung lebih membela orang-orang kafir.

Wahai robb…Apa yang hendak Engkau perbuat?
“…maka Alloh akan datangkan satu kaum yang Alloh cinta kepada mereka dan merekapun cinta kepada Alloh…”

Siapakah orang-orang pilihan itu? Siapakah orang-orang mulia yang Alloh simpan untuk menolong agama-Nya dan mengangkat benderanya ketika manusia mundur dan hanya kelompok beriman saja yang bangkit?

“…Alloh cinta kepada mereka dan merekapun cinta kepada Alloh, mereka lembut kepada sesama orang beriman dan keras terhadap orang-orang kafir…”

Setelah itu, apa lagi wahai robb..?
“…mereka berjihad di jalan Alloh serta tidak takut akan celaan orang yang mencela…”

Meskipun demikian, Alloh telah tetapkan bahwa perkara ini adalah semata-mata anugerah dan murni kebaikan dari-Nya, tidak didapat oleh semua orang,
“…itulah anugerah Alloh yang Dia berikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, dan Alloh Mahaluas (anugerahnya) lagi Mahamengetahui (siapa yang pantas menerimanya).”

Maka, hati-hati…waspadalah, jangan sampai kita tertinggal oleh kafilah ini.

Saudaraku dalam tauhid

Berusaha keraslah engkau untuk menjadi orang-orang yang dicintai dan mencintai Alloh itu, sebab jika kafilah ini telah beranjak pergi, jika perjalanan telah dimulai, orang yang ketinggalan akan tertinggal, sebelum nantinya kebenaran akan menang di atas kebatilan.

Alloh Ta‘ala berfirman:
{إِنَّ اللهَ اشْتَرَى مِنَ اْلمُؤْمِنِيْنَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ اْلجَنَّةَ يُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ فَيَقْتُلُوْنَ وَيُقْتَلُوْنَ وَعْداً عَلَيْهِ حَقّاً فِي التَّوْرَاةِ وَاْلإِنجْيِْلِ وَاْلقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللهِ فَاسْتَبْشِرُوْا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِّهِ وَذَالِكَ هُوَ اْلفَوْزُ اْلعَظِيْمُ}
“Sesungguhnya Alloh telah membeli dari orang-orang beriman jiwa dan harta mereka dengan memberikan surga kepada mereka; mereka berperang di jalan Alloh lalu terbunuh atau dibunuh. Itulah sebagai janji yang pasti benar, yang tercantum dalam kitab Taurat, Injil dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya daripada Alloh? Maka terimalah kabar gembira dengan jual beli yang kalian lakukan, dan itulah sebenarnya kemenangan yang besar.”[20]

Di kala banyak orang yang menyatakan cinta, merekapun dituntut untuk memberikan bukti kejujuran pengakuan cintanya. Kalau semua orang diterima pengakuannya, orang yang tidak memiliki apa-apa akan pura-pura menghiba. Maka masing-masingpun menyodorkan bukti yang bermacam-macam, lalu dikatakan: “Pengakuan ini tidak akan diterima kecuali dengan adanya satu bukti, yaitu:
{قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللهُ}
“Katakanlah: Jika kalian mencintai Alloh, maka ikutilah aku, niscaya Alloh akan mencintai kalian.” [21]

Maka semuanyapun undur diri, hanya orang yang benar-benar cinta saja yang tetap konsisten dengan perbuatan, kata-kata serta perilakunya. Setelah itu, mereka dituntut untuk memperkuat tulusnya bukti ini dengan rekomendasi dari-Nya, yaitu:
{يُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ وَلاَ يَخَافُوْنَ لَوْمَةَ لاَئِمٍ}
“…mereka berjihad di jalan Alloh serta tidak takut akan celaan orang yang suka mencela…” [22]

Dari sekian orang yang benar-benar mencintai tadi, sebagian besar mundur, hanya para mujahidin (orang-orang yang mau berjihad saja) yang tetap tegak berdiri, maka dikatakan kepada mereka: “Nyawa dan harta orang-orang yang mencintai bukanlah milik mereka, kalau begitu berbai‘atlah,”
{إِنَّ اللهَ اشْتَرَى مِنَ اْلمُؤْمِنِيْنَ أَمْوَالَهُمْ وَأَنْفُسَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ}
“Sesungguhnya Alloh telah membeli dari orang-orang beriman, jiwa dan harta mereka dengan memberikan surga kepada mereka…” [23]

Maka tatkala mereka mengerti betapa agungnya kedudukan orang yang mau menjadi penjual, mengerti keutamaan harga yang ditawarkan dan kebesaran fihak yang menjalankan akad jual beli, merekapun sadar berarti barang yang akan dijualpun harus mahal dan ada nilai tersendiri. Mereka kemudian menyadari betapa sangat ruginya ketika mereka harus menjual barang dagangan tersebut kepada fihak lain dengan harga tak seberapa. Akhirnya merekapun menjalin akad jual beli atas dasar keridhoan dengan sang Pembeli, tanpa adanya tawar-menawar, mereka mengatakan: “Demi Alloh, kami tidak akan membatalkan akad dengan-Mu ini dan tidak akan minta Engkau membatalkannya.”

Selesailah akad, dan merekapun menerima harganya, dikatakan kepada mereka: Sejak nyawa dan harta kalian menjadi milik Kami, Kami telah mengembalikannya kepada kalian dengan keadaan paling utuh dan masih dilipat gandakan.”
{وَلاَ تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ قُتِلُوا فيِ سَبِيْلِ اللهِ أَمْوَاتاً بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبهِِّمْ يُرْزَقُوْنَ فَرِحِيْنَ بِمَا آتَاهُمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُوْنَ بِالَّذِيْنَ لَمْ يَلْحَقُوْا بِهِمْ مِّنْ خَلْفِهِمْ أَنْ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَهُمْ يَحْزَنُوْنَ}
“Dan janganlah kamu sekali-kali mengira bahwa orang yang terbunuh di jalan Alloh itu mati, bahkan mereka hidup mendapatkan rezeki di sisi robbnya. Mereka bergembira dengan kelebihan yang Alloh berikan kepada mereka, serta menerima kabar gembira yang tidak dijumpai oleh oran-orang di belakang mereka, yaitu kalian tidak akan lagi takut dan tidak pula bersedih.” [24]

Ibnu Katsir Rahimahulloh berkata: “Alloh Ta‘ala mengkhabarkan bahwa diri-Nya akan mengganti dengan surga bagi hamba-Nya yang mau mengorbankan nyawa dan hartanya di jalan-Nya. Ini termasuk anugerah, kemurahan serta kebaikan Alloh, karena Alloh mengganti sesuatu yang menjadi milik-Nya dengan balasan yang lebih bagi hamba yang taat kepada-Nya, karena itu Al-Hasan Al-Bashri berkata –demikian juga Qotadah—: “Alloh menjalin akad jual beli dengan mereka, lalu mempermahal harganya.”

Alloh Ta‘ala juga berfirman:
{وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ}
“…dan agar Alloh mengambil dari kalian sebagai syuhada (orang-orang yang mati syahid).” [25]

As-Suhailiy Rahimahulloh berkata: “Di dalamnya berisi keutamaan besar bagi orang-orang yang mati syahid, serta pemberitahuan bahwa Alloh mencintai mereka.”

Di dalam Shohih Bukhori Muslim disebutkan sebuah riwayat Anas ra ia berkata, Rosululloh SAW bersabda:
(مَا أَحَدٌ يَدْخُلُ اْلجَنَّةَ يُحِبُّ أَنْ يَّرْجِعَ إِلىَ الدُّنْيَا وَمَالَهُ عَلَى اْلأَرْضِ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ الشَّهِيْدُ فَإِنَّهُ يَتَمَنَّى أَنْ يَّرْجِعَ إِلىَ الدُّنْيَا فَيُقْتَلَ عَشْرَ مَرَّاتٍ لِمَا يَرَى مِنْ فَضْلِ الشَّهَادَةِ)
“Tidak ada seorangpun yang masuk surga kemudian ingin untuk kembali ke dunia dan memiliki sesuatu yang pernah ia punya di sana kecuali orang yang mati syahid; ia berandai-andai kembali ke dunia lalu terbunuh sepuluh kali, karena keutamaan mati syahid yang ia lihat.”

Dikisahkan, ketika ‘Abdulloh bin ‘Amru bin Harom terbunuh dalam perang Uhud, Nabi SAW bersabda kepada Jabir (puteranya), “Wahai Jabir, maukah engkau kuberi tahu apa yang Alloh firmankan kepada ayahmu? Alloh tidak mengajak bicara siapapun kecuali dari balik tabir, tetapi kali ini Alloh berbicara dengan ayahmu secara langsung, lalu berfirman: “Hai ‘Abdulloh, berangan-anganlah kepada-Ku, niscaya Aku berikan,” Ayahmu mengatakan: “Wahai robb, hidupkan kembali aku supaya bisa terbunuh lagi karena-Mu untuk kali kedua,” Alloh berfirman, “Sudah menjadi ketetapan-Ku, mereka yang mati tidak akan dikembalikan lagi ke dunia,” maka ayahmu berkata, “Wahai robb, kalau begitu sampaikan keadaanku ini kepada orang yang belum menyusulku.” Maka Alloh Ta‘ala menurunkan firman-Nya: “Dan janganlah sekali-kali kamu mengira orang yang terbunuh di jalan Alloh itu mati, bahkan mereka hidup mendapatkan rezeki di sisi robbnya.”

Dan dari Ibnu ‘Abbas ia berkata, Rosululloh SAW bersabda:
“Ketika saudara-saudara kalian terbunuh di perang Uhud, Alloh telah letakkan ruh-ruh mereka di tembolok burung-burung hijau, mereka mendatangi sungai-sungai di surga, memakan buah-buahannya serta beristirahat di lentera-lentera emas yang tergantung di naungan ‘Arsy, ketika mereka menjumpai betapa lezat makanan, minuman dan tempat istirahatnya, mereka mengatakan: “Siapakah yang akan memberi tahu saudara-saudara kita tentang keadaan kita, bahwa kita dalam keadaan hidup mendapatkan rezeki di surga, supaya mereka tidak berlambat-lambat untuk berjihad dan melakukan serangan  ketika berperang?” Alloh berfirman: “Akulah yang akan memberitahukan keadaan kalian,” Maka Alloh Ta‘ala menurunkan firman-Nya: “Dan janganlah sekali-kali kamu mengi-ra orang yang terbunuh di jalan Alloh itu mati, bahkan mereka hidup mendapatkan rezeki di sisi robbnya.”

Dan dari ‘Abdulloh bin ‘Umar ra ia berkata: Aku mendengar Rosululloh SAW bersabda, “Golongan pertama yang akan masuk surga adalah kaum fakir dan muhajirun (orang-orang yang berhijrah dari negerinya), yang terjaga dari perbuatan-perbuatan tidak baik, jika diperintah mereka mendengar dan taat, jika salah seorang dari mereka mempunyai hajat kepada seorang penguasa, hajat tersebut tidak terpenuhi sampai ia meninggal dunia sementara keperluan itu masih tertahan dalam dadanya. Sesungguhnya Alloh ‘Azza wa Jalla benar-benar akan memanggil surga pada hari kiamat nanti, maka surgapun datang lengkap dengan perhiasan dan keindahannya, lalu Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman: Di manakah hamba-hamba-Ku yang berperang di jalan-Ku dan terbunuh? Masuklah kalian ke dalam surga,” merekapun memasukinya tanpa dihisab terlebih dahulu. Kemudian para malaikat berda-tangan dan bersujud seraya mengatakan: “Wahai robb kami, kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu sepanjang malam dan siang, kami senantiasa mensucikan Engkau, siapakah orang-orang yang Engkau lebihkan atas kami itu?” Alloh berfirman: “Mereka adalah hamba-hamba-Ku yang terbunuh dan disakiti di atas jalan-Ku.” (HR. Ahmad dan Al-Bazzar)

Dan dari Ibnu Mas‘ud ra, bahwasanya ia pernah ditanya mengenai firman Alloh Ta‘ala: “Dan janganlah sekali-kali kamu mengira orang yang terbunuh di jalan Alloh itu mati,” maka beliau mengatakan: “Kami dulu pernah menanyakannya, kemudian kami diberitahu bahwa nyawa mereka berada dalam tubuh burung hijau yang berjalan-jalan di surga sesukanya, kemudian bersemayam di lentera-lentera yang tergantung di ‘Arsy, setelah itu Robb-mu melihat mereka dengan sekali lihat, dan berfirman: “Apakah kalian menginginkan tambahan sesuatu dari-Ku?” mereka mengatakan: “Robb kami, tambahan apa lagi yang akan kami minta, sementara kami bisa berjalan-jalan di surga sesuka kami?” Alloh kembali melihat mereka untuk kali kedua lalu berfirman: “Apakah kalian meminta tambahan sesuatu dari-Ku?” Mengetahui diri mereka tidak akan dibiarkan (terus ditanya), maka merekapun mengatakan: “Kembalikanlah nyawa kami supaya kami bisa kembali ke dunia lalu terbunuh lagi di jalan-Mu kedua kalinya.”
Disebutkan dalam sebuah hadits riwayat Bukhori dari Abu Huroiroh ra ia berkata, Rosululloh SAW bersabda,
(تَضَمَّنَ اللهُ لِمَنْ خَرَجَ فِيْ سَبِيْلِهِ لاَ يُخْرِجُهُ إِلاَّ جِهَادٌ فيِ سَبِيْلِيْ وَإِيْمَانٌ بِيْ وَتَصْدِيْقٌ بِرُسُلِيْ، فَهُوَ عَلَيَّ ضَامِنٌ أَنْ أُدْخِلَهُ اْلجَنَّةَ أَوْ أُرْجِعَهُ إِلَى مَسْكَنِهِ الَّذِيْ خَرَجَ مِنْهُ نَائِلاً مَا نَالَ مِنْ أَجْرٍ وَغَنِيْمَةٍ، وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ مَا مِنْ كَلْمٍ يُكْلَمُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ تَعَالَى إِلاَّ جَاءَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ كُلِمَ, لَوْنُهُ لَوْنُ الدَّمِ وَرِيْحُهُ اْلمِسْكُ، وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى اْلمُسْلِمِيْنَ مَا قَعِدْتُ خِلاَفَ سَرِيَّةٍ تَغْزُوْ أَبَداً، وَلَكِنْ لاَ أَجِدُ سَعَةً فَأَحْمِلُهُمْ، وَلاَ يَجِدُوْنَ سَعَةً فَيَشُقُّ عَلَيْهِمْ أَنْ يَتَخَلَّفُوْا عَنيِّ، وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَوَدِدْتُ أَنْ أَغْزُوَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ فَأُقْتَلُ، ثُمَّ أَغْزُوَ فَأُقْتَلُ).
“Alloh menjamin siapa saja yang keluar di jalan-Nya (dengan berfirman): ia tidak keluar kecuali karena berjihad di jalan-Ku, beriman kepada-Ku serta membenarkan rosul-Ku, maka Aku pasti menjamin untuk memasukkannya ke dalam surga atau Aku kembalikan ia ke tempat tinggal yang dulu ia keluar darinya dengan hasil apapun yang ia peroleh, berupa pahala atau ghonimah. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidak ada satu lukapun yang tergores di jalan Alloh Ta‘ala kecuali pada hari kiamat nanti akan datang dalam kondisi paling deras mengucurkan darah, warnanya warna darah dan aromanya aroma kasturi. Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, kalau bukan khawatir memberatkan kaum muslimin, aku tidak akan pernah absen dalam sariyah yang menjalankan misi perang di jalan Alloh, akan tetapi aku tidak menemukan kelapangan untuk membawa mereka semua dan merekapun tidak memiliki kelapangan sehingga mereka keberatan untuk absen dariku. Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, aku benar-benar ingin berperang di jalan Alloh kemudian terbunuh, kemudian berperang lagi kemudian terbunuh lagi.”

Keutamaan apa yang melebihi keutamaan ini?
Kenikmatan apa yang melebihi kenikmatan ini?
Kemuliaan apa yang melebihi kemuliaan ini?

Lihatlah, Amerika berada di tengah-tengah kalian…mari kita sembuhkan sakit kita darinya, puaskanlah dahaga kalian dengan menumpahkan darah mereka…lindungilah kehormatan wanita-wanita muslimat, hendaklah kalian merasa menang dengan adanya kabar gembira yang mulia ini.

Muslim meriwayatkan di dalam kitab Shohih-nya dari Abu Huroiroh ra dari Nabi SAW beliau bersabda:
(لاَ يَجْتَمِعُ كَافِرٌ وَقَاتِلُهُ فِي النَّارِ أَبَداً)
“Orang kafir dan orang yang membunuhnya tidak akan pernah berkumpul menjadi satu di dalam neraka.”

Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari Salman bin Abi Robi‘ah ia berkata, “Aku telah bunuh dengan pedangku ini sebanyak 100 orang berbaju besi, semuanya menyembah selain Alloh, aku tidak membunuh seorangpun dari mereka dalam kondisi sabar.”
Dan dari Ibnu Sirin, dikisahkan bahwa Barro’ bin Malik membaringkan diri sembari berdendang melantunkan syair, maka Anas bin Malik (saudara kandung Barro’) berkata kepadanya: “Berdzikirlah kepada Alloh hai saudaraku!” mendengar teguran itu Barro’pun bangkit dan duduk, lantas berkata: “Wahai Anas putera ayahku, aku tidak ingin mati di atas tempat tidurku sementara aku telah membunuh 100 orang musyrik dalam perang tanding, selain yang kubunuh bersama-sama.”

Saudaraku dalam tauhid

Waspadalah terhadap jebakan dan pintu masuk syetan. Waspadalah, jangan sampai syetan menjadi penghalang antara dirimu dan jihad di jalan Alloh dengan meletakkan penghalang serta sebab-sebab yang akan menjadikan dirimu duduk dan absen dari jihad, walaupun amalan-amalan tersebut adalah ketaatan kepada Alloh dan rosul-Nya. Sebab syetan yang terlaknat dan keras kepala ini tidak akan pernah berhenti untuk menghalangi hamba dari perkara yang bisa menjadikan tuhannya ridho.

Semoga Alloh merahmati Ibnul Qoyyim, ketika beliau mengingatkan urusan penting ini, beliau mengatakan –yang kurang lebih maknanya—:
“Syetan tak pernah berhenti dan tak gampang putus asa mengintai orang mukmin dan menduduki jalan yang dilaluinya menuju Alloh, ia memasang beberapa perangkap dan tali jebakan untuknya, ia tidak akan menggunakan perangkap yang lebih mudah kecuali sudah tidak berhasil dengan perangkap yang lebih sulit. Mula-mula ia pasang jebakan kesyirikan dan kekufuran; kalau orang mukmin itu selamat dari perangkap ini, ia pasang jerat perbuatan bid‘ah; jika orang mukmin itu berhasil melewatinya, ia telah siapkan jaring dosa-dosa besar; jika orang mukmin itu masih juga berhasil melangkahinya, ia siapkan jerat dosa-dosa kecil; kalau masih juga selamat, ia akan sibukkan dia dengan perkara-perkara halal (mubah); jika sudah tidak mampu lagi menjeratnya, syetan mengintai dan menyamarkan penghalang itu menjadi berupa ibadah-ibadah mafdhuulah (non prioritas), lalu syetanpun menyibukkannya dengan ibadah tersebut, memperindah dalam pandangan matanya, menghias-hias serta memperlihatkan keutamaan dan keuntungan yang terdapat dalam ibadah tersebut untuk memalingkannya dari ibadah yang lebih afdhol (utama), yang lebih besar hasil dan keuntungannya. Karena, ketika syetan tidak berhasil merugikan seorang mukmin dari pokok pahala, ia akan berusaha keras untuk –paling tidak— mengurangi kesempurnaan, keutamaan dan tingkatan-tingkatan tinggi yang bisa dicapainya, maka syetanpun menyibuk-kannya dengan perbuatan yang diridhoi Alloh dengan memalingkannya dari perbuatan yang lebih diridhoi Alloh, seperti menyibukkannya dengan aktifitas menuntut ilmu yang hukumnya fardhu kifayah dengan memalingkannya dari jihad yang hukumnya fardhu ‘ain, atau menghiasi amalan jihad berupa dakwah padahal pintu berjihad dengan pedang terbuka di hadapan para petempurnya.”

Sementara Alloh Ta‘ala berfirman:
{أَجَعَلْتُمْ سِقَايَةَ الْحَاجِّ وَعِمَارَةَ الْمَسْجِدِ اْلحَرَامِ كَمَنْ آمَنَ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِرِ وَجَاهَدَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ لاَ يَسْتَوُوْنَ عِنْدَ اللهِ وَاللهُ لاَ يَهْدِي اْلقَوْمَ الظَّالِمِيْنَ}.
“Apakah kalian menganggap melayani para hajji dan memakmurkan Masjidil Harom itu sama dengan orang yang beriman kepada Alloh dan hari akhir serta berjihad di jalan Alloh? Mereka tidaklah sama di sisi Alloh, dan Alloh tidaklah memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim.” [26]

Dahulu, para imam kita mengatakan: “Orang faham agama (fakih) bukanlah yang mengerti mana perkara yang baik, orang fakih adalah yang mengenali perkara terbaik dari dua kebaikan.”

Ibnul Mubarok meriwayatkan dengan isnad-nya dari Shofwan, bahwasanya Abu Huroiroh berkata: “Apakah kalian mampu sholat tanpa henti dan puasa tanpa berbuka sepanjang hidupnya?” Dikatakan: “Wahai Abu Huroiroh, siapa yang mampu melaku-kannya?” beliau berkata: “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidur seorang mujahid di jalan Alloh itu lebih baik dari amalan ini.”

Ini adalah kedudukan mujahid yang tidur, lantas bagaimana dengan yang bangun. Jika kedudukan mujahid dalam kondisi tidak sadar saja seperti ini, lantas bagaimana dengan yang sedang berjuang. Jika tali sandalnya saja sedemikian berharga seperti ini, lantas bagaimana dengan perbuatan mereka.

Wahai robb kami…betapa banyak teman-teman tercinta kami yang Engkau pilih dan ambil dari tengah-tengah kami sementara Engkau haramkan kami untuk memperolehnya lantaran dosa-dosa kami…

Ya Alloh, jangan haramkan kami untuk memperoleh pahala seperti yang mereka peroleh… Janganlah Engkau timpakan fitnah kepada kami sepeninggal mereka… serta susulkanlah kami untuk bisa berjumpa mereka.

Kalaulah aku lupa, kali ini aku tidak akan lupa kepada ikhwan-ikhwanku yang telah gugur sebagai syuhada, semoga Alloh merahmati mereka semua, merekalah yang hidup bersama kami dalam suka dan duka dan menyertai perjalanan di atas jalan perjuangan.

Terutama sekali adalah Akh tercinta, yang sangat berharga bagiku, yang syahid tetapi hidup (di akhirat) –demikian kami berprasangka, hanya Alloh lah yang akan menghitung amalnya—, dialah Abu ‘Ubaidah ‘Abdul Hadi Daghlas. Demi Alloh, setelah Alloh memberiku hidayah, belum pernah aku ditimpa mushibah yang lebih menyedihkan dari pada ketika kehilangan suadaraku yang satu ini. Dialah saudaraku yang ketika aku berada di hadapannya aku merasa kecil karena tingginya keberaniannya, sikap pantang mundurnya, kesabaran dan kebaikan akhlaknya. Terhadap orang seperti ‘Abdul Hadi lah mata ini layak mencucurkan air mata… terhadap orang seperti ‘Abdul Hadi lah mata ini layak mencucurkan air mata…

Setiap mengingatnya, aku selalu ingat sebuah hadits Nabi ‘Alaihis Sholaatu was Salam yang diriwayatkan Imam Ahmad dan Ibnu Hibban dari Ibnu Mas‘ud bahwasanya Rosululloh SAW bersabda,
“Robb kita takjub terhadap dua orang; –salah satunya yang beliau sebutkan adalah—lelaki yang berperang di jalan Alloh kemudian teman-temannya mundur karena mengalami kekalahan dan dia sadar akan kekalahan tersebut tetapi ia tidak mau mundur ke belakang, ia kembali bertempur sampai darahnya tertumpah, maka Allohpun berfirman kepada para malaikat-Nya: “Lihatlah hamba-Ku ini, ia kembali bertempur karena mengharap dan merindukan apa yang ada di sisi-Ku sampai darahnya tertumpah.”

Kala itu, para mujahidin terpaksa mengkosong-kan basis-basis pertahanan mereka karena serangan udara musuh yang begitu gencar dan bertubi-tubi. Tetapi ‘Abdul Hadi menolak mundur, ia malah berbai‘at bersama se-kelompok ikhwan-ikhwan-nya untuk bertempur sampai mati, kemudian merekapun menerobos ke tengah barisan musuh. Kita memohon agar Alloh sudi kiranya menerima mereka.

Mereka mati dan sosok mereka menghilang di telan bumi
Sungguh, koyakan daging adalah kesturi dan tulang-belulangnya hancur lebur

Demi Alloh, dia adalah gunung dari sekian banyak gunung, singa dari sekian banyak singa, ahli ibadah dari sekian banyak ahli ibadah, ahli zuhud dari sekian banyak ahli zuhud, engkau bisa menyaksikan kesholehan terpancar pada wajahnya, ia adalah sosok pengobar api perang jika berdam-pingan dengan para perwira, karena Alloh sajalah ia tidak takut celaan orang yang mencela, keras terhadap musuh-musuh Alloh tetapi sangat penya-yang dan baik hati kepada sesama ikhwan-ikhwan-nya.

Semoga Alloh merahmati dirimu dengan rahmat seluas-luasnya, wahai ‘Abdul Hadi.

Demi Alloh, engkau adalah saudaraku yang sangat aku cintai, teman yang sangat perhatian, engkau ibarat pendengaran dan penglihatanku.  Demi Alloh, kedudukanmu masih belum ada yang bisa menggantikan. Karena kelebihan yang engkau miliki, aku kehilangan satu dari anggota-anggotaku.

Kalaulah aku lupa, aku tidak akan pernah melupakan suatu hari di mana engkau pernah berkata kepadaku: “Aku benar-benar mendoakan dirimu melebihi doaku untuk kedua orang tuaku.”

Kerugian apa lagi setelah kerugian seperti ini? musibah apa lagi yang melebihi musibah ini? aku harus kehilangan dirimu di saat aku sangat memerlukan keberadaanmu.

Kita hanya bisa memohon kepada Alloh ‘Azza wa Jalla agar meninggikanmu di ‘Illiyyiin (surga yang tinggi), dan mempertemukan kita dalam keadaan tidak tertimpa fitnah, dalam kondisi sama-sama sebagai syuhada’ yang sholeh, bersama para nabi dan para shiddiiqiin, alangkah indahnya berteman dengan mereka, engkau dan ikhwan-ikhwanmu lainnya yang tidak bisa kusebut satu persatu di sini karena terbatasnya waktu.

Tibalah masamu sekarang masa kebahagiaan
Kalian tidak henti-hentinya mengunjungi ruh-ruh kami

Pada kesempatan kali ini, tidak lupa aku sampaikan nasihat dan peringatan kepada para ulama dan da‘i dari umat ini…
Alloh Ta‘ala berfirman:
{وَإِذْ أَخَذَ اللهُ مِيْثَاقَ الَّذِيْنَ أُوْتُوا اْلكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلاَ تَكْتُمُوْنَهُ فَنَبَذُوْهُ وَرَاءَ ظُهُوْرِهِمْ وَاشْتَرَوْا بِهِ ثَمَناً قَلِيْلاً فَبِئْسَ مَا يَشْتَرُوْنَ}
“Dan (ingatlah) ketika Alloh mengambil sumpah dari orang-orang yang diberi Kitab hendaknya kalian benar-benar menerangkannya kepada manusia dan tidak menyembunyikannya. Lantas mereka membuang janji itu di belakang punggung mereka serta menukarnya dengan harga yang murah, sungguh amat buruklah apa yang mereka tukar itu.” [27]

Sesungguhnya Alloh telah mengambil sumpah dari kalian untuk melaksanakan perintah-Nya yaitu beramar makruf nahi munkar, berjihad di jalan Alloh serta melindungi syari‘at-Nya dan rela mengorbankan nyawa demi memperjuangkan agama-Nya.

Diriku sangat menyayangkan sikap kalian… kalian lebih memilih jalan selamat dan lebih senang untuk hidup santai, lebih senang kepada keluarga, harta dan anak dengan meninggalkan hak Alloh, kalian biarkan mujahidin berhadapan dengan kekuatan paling angkuh yang pernah ada di muka bumi, yang datang dengan pasukan berkuda dan pejalan kakinya.

Di manakah kalian wahai ulama’ umat?
Sampai kapankah kalian mundur?
Sampai kapan kalian enggan melaksanakan kebenaran?!
Masih sajakah dalih mashlahat dan mafsadah menjadi agama dan manhaj kalian?!
Belum tibakah saatnya bagi kalian untuk kembali kepada agama kalian?!
Dari Ibnu ‘Umar ra ia berkata, Rosululloh SAW bersabda:
(إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِاْلعِيْنَةِ، وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ اْلبَقَرِ، وَرَضِيْتُمْ بِالزَّرْعِ، وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلّاً لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوْا إِلىَ دِيْنِكُمْ).
“Jika kalian telah berjual beli dengan sistem ‘Inah (sejenis riba, penerj.), kalian mengambil ekor-ekor sapi, kalian suka bercocok tanam, dan kalian meninggalkan jihad, maka Alloh akan menimpakan kehinaan kepada kalian yang tidak akan Dia cabut sampai kalian mau kembali kepada agama kalian.”

Sabda beliau: “…sampai kalian mau kembali kepada agama kalian,” menunjukkan bahwa tidak ikut dan berpaling dari jihad serta lebih mengutamakan dunia itu keluar dari lingkup ajaran agama, dan cukuplah ini sebagai dosa dan kesalahan yang nyata.

Belum tibakah saatnya kalian terbangun dari kelalaian-kelalaian kalian?

Belum saatnyakah gelapnya malam berubah menjadi terang?

Fitnah apa lagi yang kalian bahas?

Mashlahat apa lagi yang kalian diskusikan?

Wahai ulama ummat, adakah fitnah yang lebih besar daripada fitnah yang sekarang menimpa kita?

Sesungguhnya fitnah tersebut adalah kemusy-rikan.

Fitnah itu adalah berkuasanya kebatilan di atas kebenaran.

Fitnah itu adalah disia-siakannya hukum Alloh di muka bumi.

Fitnah itu adalah berkumpulnya singa-singa Islam di balik jeruji penjara, di Kuba (Guantanamo) dan yang lainnya.

Tengoklah diri kalian, ada yang sudah berusia 30 tahun, 40 tahun, 50 tahun, bahkan lebih, tapi belum pernah membebani dirinya untuk berjaga-jaga (ribath) di jalan Alloh, belum pernah menanggung payahnya perjalanan agar kakinya berdebu di jalan Alloh. Kalian habiskan umur untuk mencari ilmu sembari bersandar di atas dipannya, dalam suasana aman sentosa dari musuh-musuh Alloh, tidak pernah mengalami satu masa di mana ia ditimpa bala di jalan Alloh, dipenjara, dicambuk atau yang lain.

Demi Alloh, hanya ada dua kemungkinan:
Kalian lebih mulia di sisi Alloh dari pada Nabi-Nya (Muhammad) yang beliau dulu juga disakiti dengan berbagai jenis gangguan di jalan Alloh;

Atau –kemungkinan kedua— kalian tidak berada di atas petunjuk Nabi Muhammad SAW.

Untuk lebih mulia dari nabi, na‘uudzu billah, kalian tidak mungkin seperti itu, tidak mungkin kalian lebih mulia dari beliau… padahal dalam hadits disebutkan: “Demi Alloh, tidak ada seorangpun yang membawa ajaran seperti yang engkau bawa ini (wahai Muhammad) kecuali pasti akan disakiti.”

Sampai kapankah kalian akan menyerahkan umat ini untuk thoghut-thoghut timur dan barat, yang mengkangkangi wilayah umat dan menimpakan siksa yang pedih kepada mereka, menyembelihi putera-putera terbaiknya yaitu para mujahidin, dan menguasai sumber daya alamnya?! Seperti inikah para salafus sholeh itu bersikap cemburu terhadap kondisi umatnya?! Di manakah pengorbanan itu wahai ulama umat?!

Di mana posisi kalian dari Sufyan Ats-Tsauri, seorang ulama yang robbani, yang mengatakan: “Demi Alloh, aku pernah melihat sebuah urusan yang seharusnya aku angkat bicara tentangnya tapi kemudian aku tidak sanggup mengatakannya sehingga akupun kencing darah,” ?

Lihatlah Sufyan Ats-Tsauri ini, beliau sampai terkencing darah ketika jiwanya benar-benar murni untuk Alloh dan tidak terpengaruh oleh urusan dunia, beliau kencing darah ketika darah dan nafas yang ada dalam tubuhnya telah menyatu dengan kecintaan kepada agama ini.

Belum sampaikah kepada kalian –wahai ulama umat—kisah Yunus bin ‘Ubaid Rahimahulloh ketika menjelang wafat beliau memandangi kedua kakinya sembari menangis, lalu orang-orang bertanya: “Apa yang membuatmu menangis wahai Abu Abdillah?”
“Kedua kakiku ini…” kata beliau, “…belum pernah berdebu di jalan Alloh.”

Kedua kaki beliau belum pernah berdebu di jalan Alloh di waktu hukum jihad adalah fardhu kifayah, yang jika sebagian orang sudah cukup untuk melaksanakannya maka gugurlah kewajiban itu dari yang lain. Bagaimanakah jika jihad itu hukumnya  fardhu ‘ain? Menurut kalian, bagaimana jika Yunus bin ‘Ubaid ini hidup di zaman kita ini, apa yang akan beliau katakan?

Demi Alloh, barangkali beliau akan mengatakan:
Wahai gunung-gunung, lemparkanlah batu-batuan
Wahai langit, turunkanlah hujan kerikil dan basuhlah kami
Wahai gugusan bintang gemintang, tiba saatnya melontar, maka terbanglah
Kamu tidak akan melontar kecuali ke arah syetan-syetan…

Umat ini sudah benar-benar tertimpa berbagai bencana dan musibah, syariat Alloh Sang pemelihara bumi dan langit dienyahkan di saat para ulama umat ini tidak sudi lagi berkorban, di hari ketika pohon jihad di dalam dada mereka melayu, dan lantas merekapun tidak mau bergabung dengan kafilah mujahidin. Di hari ketika tidak lagi tergambar dalam benak mereka bahwa umat ini baru akan eksist dengan darah para ulama’ , tidak tergambar bahwa tumbal darah ulama adalah perkara yang sudah sewajarnya dipersembahkan untuk memperoleh warisan kenabian, yang warisan itu mereka akan mereka rengkuh dalam dada mereka.

Semoga Alloh merahmati Ibnu Hazm ketika beliau mengatakan:
Cita-citaku di dunia adalah menyebarkan ilmu
Aku sebarkan di setiap lembah dan perkam-pungan
Menyeru kepada Al-Quran dan sunnah
Yang orang-orang sengaja melupakannya dalam khutbah-khutbah
Dan aku akan wajibkan diriku menjadi mujahid di perbatasan musuh
Ketika suara mencekam datang, akulah yang pertama hampiri
Tuk jemput maut dalam keadaan maju pantang mundur
Mengguna pasak-pasak yang panjang dan palu yang mematikan
Berhadapan dengan orang-orang kafir di medan peperangan
Kematian termulia bagi pemuda adalah dibunuh orang kafir
Robbku, jangan matikan aku selain dengan cara ini
Dan jangan jadikan aku orang-orang yang menghuni liang kubur

Itulah Ibnu Hazm…sungguh luar biasa Ibnu Hazm.

Adapun Anda semua, wahai ulama kami, kalian telah ber-mudahanah (kompromi) dengan thoghut, kalian telah serahkan negeri dan rakyat kepada bangsa yahudi dan salibis serta para anteknya dari kalangan penguasa kami yang murtad, di saat kalian mendiamkan kejahatan mereka, di saat kalian tidak berani terang-terangan mengatakan kebenaran di hadapan mereka, di saat kalian tidak mampu mengangkat panji jihad dan tauhid yang Alloh bebankan kepada kalian, di hari ketika kalian matikan ghiroh (kecemburuan) dan kemarahan karena agama Alloh yang berkobar di hati para pemuda, kalian larang mereka untuk berangkat ke medan-medan tempur sehingga medan-medan itu kosong dari singa-singa, kecuali mereka yang dirahmati Alloh. Hampir tidak Anda jumpai seorang ulamapun yang bisa kami mintai fatwa di tengah-tengah kami.

Wahai hamba-hamba Alloh…

Benar, hampir tidak Anda jumpai seorang ulama pun yang bisa dimintai fatwa di tengah-tengah kami, tidak ada pula seorang penuntut ilmu yang bisa kita jadikan tauladan, tidak ada komandan yang berjiwa pendidik (robbani) yang membimbing kami mengarungi luasnya samudera. Sungguh, kalian telah sia-siakan kami di tengah kondisi yang sangat kritis, kalian telah serahkan kami kepada musuh kami, kalian biarkan kami bergadapan dengan musuh kami, kalian telah lalaikan hadits Nabi ‘Alaihis Sholatu was Salam riwayat Abu Dawud, beliau bersabda:
(مَا مِنْ اِمْرِئٍ يَخْذُلُ اِمْرَءاً مُسْلِماً فِيْ مَوْطِنٍ يُنْتَقَصُ فِيْهِ مِنْ عِرْضِهِ وَيُنْتَهَكُ فِيْهِ مِنْ حُرْمَتِهِ إِلاَّ خَذَلَهُ اللهُ فيِ مَوْطِنٍ يحُِبُّ فِيْهِ نُصْرَتَهُ).
“Tidaklah seseorang menyia-nyiakan (tidak membantu) orang muslim ketika dalam posisi harga dirinya dilecehkan dan kehormatannya dirampas, kecuali Allohpun tidak akan membantunya ketika ia dalam posisi berharap sekali Alloh menolongnya.”

Tidak adakah di antara kalian yang mau me-ngambil pelajaran dari nasehat Sa‘id bin ‘Amir? Ahli sejarah mengkisahkan bahwa ketika dirinya diangkat menjadi gubernur bagi penduduk daerah Himsh, rakyatnya mengadukannya kepada kepada ‘Umar bin Khothob, mereka menyayangkan beberapa sikapnya, di antaranya ia terlalu tertutup dan mudah sekali pingsan, ini memberatkan mereka. Ketika Sa‘id ditanya, ia menyampaikan alasannya:
“Dulu aku melihat sendiri bagaimana Khubaib bin ‘Adi Al-Anshori dieksekusi di Mekkah. Kala itu orang-orang Quraisy menyayat-nyayat dagingnya dan memasangnya di kayu salib, mereka mengatakan: ‘Maukah seandainya posisimu sekarang ini digantikan oleh Muhammad dan kamu bisa berkumpul dengan keluarga dan hartamu?” dengan tegas Khubaib menjawab: “Demi Alloh! Hai kaum Quraisy, aku tidak akan merasa bahagia jika Muhammad harus menggantikanku walaupun hanya dengan tertusuk duri di kakinya,”
Sa‘id melanjutkan:
“Setiap kali aku ingat pemandangan yang kulihat itu padahal saat itu aku berada di tengah kaum musyrikin lantas aku ingat mengapa aku dulu tidak menolong Khubaib, aku menggigil ketakutan, aku takut adzab Alloh menimpaku, lalu akupun pingsan seperti itu.”

Wahai ulama umat, tidak adakah di antara kalian yang hatinya bergetar takut akan adzab Alloh dan pingsan seperti pingsannya Sa‘id ketika kalian tidak mau menolong mujahidin?

Ya…, kalian telah serahkan kami kepada musuh, kalian juga telah serahkan umat sebelum kami kepada musuh, di saat kalian menyia-nyiakan kami dan tidak mau membantu kami…wahai ulama umat…

Sesungguhnya tangan yang menyembelih unta Nabi Sholeh hanyalah satu tangan, tapi Alloh hancurkan satu kaum seluruhnya gara-gara perbuatan itu. Dan sungguh, unta Nabi Sholeh ‘Alaihis Salam tidaklah lebih mulia di sisi Alloh daripada ratusan ribu kaum muslimin yang disembelih oleh tangan-tangan orang kafir, disebabkan membisunya kalian dan kalian diamkan mereka.

Sadarlah, wahai ulama umat, kalian mau tidak mau akan menghadap Alloh, di hari ketika anak-anak kecil beruban rambutnya, wanita hamil menggugur-kan kandungannya, ketika seseorang lari dari sauda-ranya, dari ibu dan ayahnya, dari isteri dan anak-anaknya, setiap insan disibukkan dengan urusannya sendiri-sendiri, di hari yang sulit itu…siapkanlah jawaban untuk Robbul Arbaab (robb di atas segala robb).

Di hari ketika Alloh tanyakan perihal umat kepada kalian, apa yang sudah kalian perbuat untuk mereka? Tentang para mujahidin, bagaimana kalian menolong mereka? Dan tentang musuh-musuh Islam, bagaimana kebencian dan permusuhan kalian terhadap mereka dengan pedang dan senjata serta dengan hati dan lisan?

Sesungguhnya Alloh akan menanyakan kepada kalian tentang para tawanan dalam cengkeraman yahudi, bangsa salib dan kaum musyrikin, mengapa-kah kalian tidak selamatkan mereka?

Tidakkah kalian mendengar kata-kata ‘Abdurrohman bin ‘Amroh ketika ia diutus Khalifah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz untuk menebus kaum muslimin yang ditawan di Konstantinopel. Ia berkata: “Aku bertanya kepada khalifah: Wahai Amirul Mukminin, bagaimana jika mereka tidak mau menebus seorang dengan seorang, apa yang aku lakukan?”
Beliau menjawab: “Tambah lagi,”
“Jika mereka tidak mau kecuali dengan empat orang?”
“Berikan berapa saja untuk menebus seorang muslim, demi Alloh satu orang muslim lebih aku sukai daripada semua orang musyrik yang di tawan di sisiku, sesungguhnya jika engkau bisa menebus seorang muslim sampai bebas maka berarti engkau telah menang, karena pada hakekatnya engkau telah menebus Islam.”

Sesungguhnya Alloh akan bertanya kepada kalian tentang Afghanistan dan Irak, apa yang sudah kalian perbuat untuk kedua negeri tersebut?

Sesungguhnya Alloh akan menanyakan kepada kalian tentang Mulla ‘Umar dan ketidak sudian kalian membantu beliau, padahal beliau tidak punya salah selain karena mentaati Alloh dan rosul-Nya serta menolak untuk berkompromi dalam urusan agama-nya.

Semoga Alloh merahmati Ibnul Jauzi, ketika beliau naik ke mimbar dan berkhutbah di hadapan manusia, mendorong mereka untuk berjihad dan melindungi wilayah Islam serta melindungi kaum muslimin dari serangan orang-orang kafir, setelah melihat manusia pada tidak mau untuk berperang, beliau berkata:
“Wahai manusia, mengapakah kalian lupakan agama kalian?
Mengapakah kalian menanggalkan harga diri kalian?
Mengapa kalian tidak mau menolong agama Alloh sehingga Allohpun tidak menolong kalian?
Kalian kira harga diri (‘izzah) itu milik orang musyrik, padahal Alloh telah jadikan harga diri itu milik Alloh, rosul-Nya dan orang-orang beriman.
Celaka kalian! Tidak pedih dan terlukakah hati kalian melihat musuh Alloh dan musuh kalian menyerang tanah air kalian yang telah disuburkan oleh bapak-bapak kalian dengan darah. Musuh menghina dan memperbudak kalian, padahal kalian dulu adalah para pemimpin dunia. Tidakkah hati kalian bergetar dan emosi kalian meledak menyaksikan saudara-saudara kalian dikepung dan disiksa dengan berbagai siksaan oleh musuh?
Hanya makan minum dan bernikmat-nikmat dengan kelezatan hidup sajakah kalian, sementara saudara-saudaramu di sana berselimutkan jilatan api, bergelut dengan kobarannya dan tidur di atas bara?
Wahai manusia!
Sungguh perang suci telah dimulai, penyeru jihad telah memanggil, pintu-pintu langit telah terbuka. Jika kalian tidak mau menjadi pasukan berkuda dalam perang, bukalah jalan untuk kaum wanita agar mereka bisa berperang; pergi saja kalian  dan ambillah kerikil dan celak mata…wahai wanita-wanita bersurban dan berjenggot!
Jika tidak, pergilah mengambil kuda-kuda, inilah dia tali kekangnya untuk kalian…
Wahai manusia, tahukah kalian dari apa tali kendali dan kekang ini dibuat? Kaum wanita telah memintalnya dari rambut mereka karena mereka tidak lagi punya apa-apa selain itu. Demi Alloh, ini adalah gelungan rambut wanita-wanita pingitan yang belum pernah tersentuh oleh sinar matahari karena mereka sangat menjaga dan melindunginya; mereka terpaksa memotongnya karena zaman bercinta sudah selesai dan babak perang suci telah dimulai, babak baru perang di jalan Alloh.
Jika kalian masih tidak sanggup mengendalikan kuda, ambil saja tali kekang ini dan jadikanlah sebagai kucir dan gelung rambut kalian, sebab tali kekang itu terbuat dari rambut wanita, sungguh berarti tidak ada lagi perasaan dalam diri kalian.”

Setelah itu, Ibnul Jauzi melempar tali kekang itu dari atas mimbar di hadapan khalayak ramai seraya berteriak lantang:
“Bergeraklah wahai tiang-tiang masjid, retaklah wahai bebatuan, dan terbakarlah wahai hati, sungguh hati ini sakit dan terbakar, para lelaki telah menanggalkan kejantanan mereka.”

Benar, para lelaki telah menanggalkan kejantanan mereka!

Lantas apakah yang hendak kita katakan di zaman kita ini, di mana orang yang mau memberikan pertolongan sangatlah sulit ditemukan, orang yang mau memberikan bantuan sangat sedikit, bangsa-bangsa kafir mengeroyok kita sebagaimana orang yang makan mengeroyok nampan makannya.

Demi Alloh, kami tidak meminta lelaki-lelaki sekelas Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, Sa‘ad bin Abi Waqqos, Miqdad, Tholhah, ataupun Zubair; kami hanya menginginkan lelaki seperti Shofiyyah! Ya, cukup seperti Shofiyyah, ketika wanita shohabiyyah ini membela kehormatan kaum muslimin, ketika ada seorang yahudi najis yang ingin masuk ke dalam sebuah benteng kaum muslimin hendak mengintai aurat kaum muslimin, maka Shofiyyahpun membunuhnya demi membela kehormatan kaum muslimin.

Robbi…jumpakan kami denganmu…
karena kesengsaraan dan gelombang bencana-bencana besar telah mencapai puncaknya…

Wahai ulama umat, wahai para dai, wahai para pemuda Islam…

Bertakwalah kalian kepada Alloh, bertakwalah kalian semua kepada Alloh dan kejarlah apa yang selama ini hilang dari kalian; demi Alloh, jaminan keselamatan itu ada pada pedang…

Lihatlah, musuh-musuh syariat suci ini ada di tengah-tengah kalian. Berikanlah bantuan kalian kepada ikhwan-ikhwan kalian dengan memberikan semahal dan seberharga mungkin dari apa yang kalian miliki, sebelum sejarah nanti menggunjing kalian. Ya, sebelum sejarah menggunjing kalian, sebelum ‘pasar’ ini berlalu dan orang yang beruntung akan pergi membawa keberuntungan sedangkan yang merugi akan merugi.

Ketika saya tegur para ulama, maksud saya adalah para ulama robbaniyyin. Saya sama sekali tidak menujukkan teguran tersebut kepada para ulama suu’ (jahat) dan para masyayikh yang hanya bisa bersuara nyaring. Untuk mereka, cukuplah sebuah atsar yang mengkisahkan bahwa kubur mengadu kepada Alloh lantaran busuknya bau mayat orang-orang kafir, lantas Alloh mewahyukan kepadanya bahwa perut para ulama suu’ itu jauh lebih busuk dari bau mayat orang kafir yang ada diperutmu itu. Merekalah para ulama yang memakan dunia dengan mengorbankan agamanya.

Adapun kalian, wahai para mujahidin yang senantiasa bersabar…saya katakan kepada kalian:
Meskipun kesedihan, kepayahan, kesempitan dan bala selalu menyertai kita, tapi demi Alloh musuh-musuh kita tidak akan menyaksikan dari kita selain aksi-aksi yang mencelakakan mereka. Sungguh, kita akan terus berjihad melawan mereka dengan apa saja yang kita bisa. Sungguh, kita akan korbankan semua yang mahal dan berharga dalam rangka memerangi mereka. Karena membuat marah thoghut termasuk ibadah paling baik untuk mendekatkan diri kepada Alloh. Maka bersabarlah kalian, sebab semua ini hanya hari-hari yang sebentar, setelah itu jalan keluar dan kemenangan akan tiba.

Jika kemenangan tertunda, bukan berarti janji Alloh tidak tiba, sama sekali bukan.

Jangan sampai kalian mundur dan berhenti menapaki jalan ini. Betapapun berat, sulit dan pahitnya jalan ini, tetapi demi Alloh semua itu adalah manis karena Alloh. Sungguh semua ini benar-benar nikmat agung, ketika Alloh memilih kalian menjadi orang-orang yang menolong agama-Nya dan berjihad di jalan-Nya.

Wahai shahabat pendamping perjalanan, wahai yang selalu menjadi penenang dan penghibur jiwa…tidak cukupkah bagi kalian sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Huroiroh, beliau menceritakan dulu ada seorang shahabat Rosululloh SAW melewati lembah bermata air tawar, ia berkata: “Seandainya aku mengasingkan diri dari manusia dan tinggal di lembah ini. Aku tidak akan melakukannya sebelum aku meminta izin kepada Rosululloh SAW.” Setelah meminta izin, beliau justeru bersabda: “Jangan lakukan itu, sesungguhnya tempat kalian di jalan Alloh itu lebih baik daripada sholat yang ia lakukan selama 70 tahun; tidak sukakah kalian kalau Alloh mengampuni dosa-dosa kalian dan memasukkan kalian ke surga? Berperanglah di jalan Alloh, barangsiapa yang berperang di jalan Alloh sebentar saja, maka wajib baginya surga.”

Semoga Alloh merahmati Ibnu Taimiyyah, ketika beliau mengatakan:
“Ketahuilah –semoga Alloh senantiasa memperbaiki diri kalian—, nikmat terbesar bagi orang yang Alloh kehendaki kebaikan pada dirinya adalah ketika Alloh menghidupkannya sekarang ini, zaman ketika Alloh tengah memperbaharui agama-Nya, ia menghidupkan kembali syiar kaum muslimin, ia menghidupkan ihwal kaum mukminin dan para mujahidin; sehingga keadaannya mirip dengan As-Sabiqunal Awwalin dari kalangan Muhajirin dan Anshor. Maka siapa saja yang melaksanakan semua ini di zaman sekarang, berarti ia termasuk orang-orang yang mengikuti jejak mereka dalam kebaikan. Maka sudah selayaknya kaum mukminin bersyukur kepada Alloh atas ujian yang pada hakikatnya adalah anugerah mulia dari Alloh Ta‘ala ini, seharusnya mereka mensyukuri terjadinya fitnah ini yang sebenarnya di dalamnya mengandung nikmat besar. Hingga seandainya para shahabat As-Sabiquunal Awwaluun dari kalangan Muhajirin dan Anshor, seperti Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, dan yang lainnya, mereka hadir di tempat ini, tentu amalan paling utama yang mereka lakukan adalah berjihad melawan orang-orang jahat itu. Dan tidak ada yang ketinggalan dari peperangan seperti ini selain orang yang merugi perdagangannya, dungu jiwanya, dan diharam-kan untuk mendapatkan bagian besar dari dunia dan akhirat.”

Apakah setelah semua ini, kalian akan membuang sebuah keutamaan? Apakah kalian akan mencari keutamaan pengganti? Perbanyaklah doa agar Alloh meneguhkan kita di atas jalan ini. Hendaklah kita semua seolah mengatakan:
Akan tetapi aku meminta ampunan kepada Alloh Yang Mahapengasih
Serta mencari tebasan dengan pukulan keras yang menghantam buih

Atau tikaman panas yang menimpa kedua tangan ku
dengan tombak yang menembus isi perut dan jantung

Supaya orang yang melewati mayatku mengatakan:
Semoga Alloh memberimu petunjuk hai orang yang berperang
Dan sungguh ia telah mendapat petunjuk

Duhai robbku, jika memang tiba jelang kematianku
Jangan sampai terbungkus kain kafan sutera yang hijau

Tetapi jadikan kubur tempat istirahatku di dalam perut burung nasar
Yang berada di angkasa bersama gerombolan burung nasar lainnya

Aku ingin memasuki waktu sore dalam kondisi mati syahid bersama satu golongan
yang terbunuh di dataran bumi yang mencekam

Kuda-kuda Baghdad dikumpulkan oleh
ketakwaan kepada Alloh, mereka terjun ke kancah pertempuran

Meninggalkan dunia bagi mereka adalah meninggalkan penyakit
Mereka pulang ke negeri yang dijanjikan dalam Al-Qur’an

Engkaulah majikanku, tidak ada lagi majikan selain-Mu ya Alloh…
Tidak ada lagi, ya robbi, yang lebih baik bagiku daripada Engkau
Aku serahkan daya dan kekuatanku kepada-Mu
Maka jadilah Engkau sebagai kekuatan dan dayaku dalam menggapai tujuanku
Curahkanlah ridho-Mu untukku, aku tidak mencari selain itu
Meskipun diriku harus menghadapi kengerian di malam harinya…

Ya Alloh, jadikanlah para mujahidin berkuasa di muka bumi. Ya Alloh, jadikanlah ahli tauhid berkuasa di muka bumi. Ya Alloh, siapkanlah pasukan mereka, dan kirimlah ekspedisi-ekpsedisi mereka. Ikhlaskanlah  niat-niat mereka, palingkanlah intaian mata-mata dari mereka. Ya Alloh, mudahkanlah semua kebaikan untuk mereka. Ya Alloh, lindungilah persenjataan mereka dan hiburlah keterasingan mereka. Jadilah Engkau sebagai pemberi bantuan dan penolong mereka, sungguh, mereka adalah orang-orang yang kuat karena Engkau ya Alloh, robb semesta alam.

Ya Alloh, sesungguhnya Amerika telah datang dengan pasukan berkuda dan pejalan kakinya, menentang Alloh dan rosul-Nya, Ya Alloh, lindungilah esok hari, Ya Alloh, lindungilah esok hari.

Ya Alloh, sebagaimana Engkau telah cerai beraikan kerajaan Kaisar, maka cerai beraikanlah kerajaan Bush.

Ya Alloh, kacau balaukanlah persatuan mereka, pecah belahlah kesatuan mereka, dan jadikanlah mereka sebagai ghonimah bagi kaum muslimin.

Ya Alloh, laknatilah thoghut-thoghut arab dan ‘ajam. Ya Alloh, hancurkanlah para penguasa yang murtad. Ya Alloh, sedikitkanlah jumlah mereka, bunuhlah mereka, dan jangan sisakan satupun dari mereka.
Ya Alloh, Amin.

Al-Qo’id Asy-Syaikh: Abu Mus‘ab Az-Zarqawi
—semoga Alloh senantiasa menjaganya, dan menguatkan beliau dengan pertolongan-Nya…Amin—








































[1] QS. Ali ‘Imron: 102
[2] QS. An-Nisa’: 1
[3] QS. Al-Ahzab: 70-71
[4] QS. An-Nisa’: 77 – 78.
[5] QS. Al-Baqoroh: 246
[6] QS. An-Nisa’: 84
[7] QS. Al-Anfaal: 65.
[8] QS. Ash-Shoff: 10-13.
[9] QS. At-Taubah: 38
[10] QS. At-Taubah: 24
[11] Penulisnya adalah ulama mujahid, Ibnu Nuhas Ad-Dimyati, Rahimahullooh penerj.
[12] QS. At-Taubah: 38.
[13] QS. At-Taubah: 81-84.
[14] QS. At-Taubah: 38.
[15] QS. Al-A‘roof: 34
[16] QS. Al-Munafiqun: 11
[17] QS. Al-‘Ankabut: 57.
[18] QS. Ibrohim: 27.
[19] QS. Al-Maidah: 54.
[20] QS. At-Taubah: 111
[21] QS. Ali ‘Imron: 31
[22] QS. Al-Maidah: 54.
[23] QS. At-Taubah: 111
[24] QS. Ali ‘Imron: 169 – 170.
[25] QS. Ali ‘Imron: 140.
[26] QS. At-Taubah: 19.
[27] QS. Ali Imron: 187.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar