Senin, 06 September 2010

T A W A D L U ( RENDAH HATI )

بسم الله الرحمن الرحيم

T A W A D L U

( RENDAH HATI )


I. PENGERTIAN 

Tawadlu adalah tunduk dan merendahkan diri, lawan katanya adalah sombong atau bangga diri. [1]
Al ‘Azizi berkata : Tawadlu adalah merendahkan diri terhadap kebenaran dan tidak menolak terhadap keputusan yang telah ditetapkan baginya.
Ada juga yang berpendapat : Menerima kebenaran dari manapun datangnya, baik dari yang besar, kecil, yang mulia maupun kalangan bawah.[2]
Fudhail bin Iyadh pernah ditanya tentang makna tawadlu, maka ia menjawab : Tunduk kepada kebenaran dan menerimanya dari mana saja ucapan itu.[3]
Ibnu Atho’ menegaskan : Tawadlu adalah menerima kebenaran dari siapa saja datangnya.[4]
Hasan berkata : “Tawadlu adalah jika engkau keluar dari rumahmu dan engkau tidak bertemu dengan seseorang kecuali engkau anggap ia lebih baik darimu.” [5]

II. DALIL-DALIL TENTANG TAWADLU

A. Al Qur’an
وَعِبَادُ الرَّحْمنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الأَرْضِ هَوْنًا

“Dan hamba-hamba Allah yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati.”
(Qs. Al-Furqan : 63)

Maksudnya adalah : Berjalan dengan tenang, berwibawa dan bersikap tawadlu (rendah hati), tidak jahat, tidak congkak dan tidak sombong.[6]
Ibnu Abbas berkata : Yaitu yang berjalan dengan taat, dengan ma’ruf dan tawadlu (rendah hati).
Al Hasan berpendapat : Mereka adalah orang-orang yang berilmu dan bersikap lemah lembut.

لاَتَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَامَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ وَلاَتَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِيَن {88}
Janganlah sekali-kali kamu menunjukkan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (orang-orang kafir itu), dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman. (QS. 15:88)

Lafadz حفض الجناح dalam ayat ini adalah kinayah dari sikap tawadlu.[7]
Dari Sa’id bin Jubair berkata bahwa maksud   واحفض جناحك adalah : Bersikap tunduklah kamu.[8]

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ… {54}

“Hai orang-orang yang beriman barang siapa diantara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lembah lembut terhadap orang mukmin, dan  bersikap keras terhadap orang-orang kafir.....” (Qs. Al-Maidah : 54)

Ibnu Katsir menyebutkan : Ini adalah sifat orang-orang yang sempurna keimanannya. Yaitu hendaklah mereka bersikap tawadlu kepada saudara dan walinya ...... [9]

As Syaukani menafsirkan : Lafadz   أذلة على المؤمنين, yaitu yang menampakkan belas kasih, tunduk dan tawadlu kepada orang-orang yang beriman.[10]

تِلْكَ الدَّارُ اْلأَخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لاَيُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي اْلأَرْضِ وَلاَفَسَادًا وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ {83}
“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di muka bumi. Dan kesudahan yang baik itu bagi orang-orang yang bertaqwa.” (Qs. Al-Qoshos : 83)

Ali bin Abi Thalib r.a berkata : Ayat ini turun terhadap orang-orang yang adil dan tawadlu, baik mereka itu dari kalangan penguasa atau orang-orang yang punya kekuasaan dari kalangan manusia.[11]
Ibnu Katsir berkata : Allah swt mengabarkan kepada kita bahwa negeri akhirat dan kenikmatan yang ada di dalamnya itu diperuntukkan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman, yang bersikap tawadlu dan tidak menghendaki ketinggian, kesombongan dan kesewenang-wenangan di muka bumi ini.[12]

B. As Sunnah

عَنْ عِيَاضِ بن حمار رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ الله صلى اله عليه وسلم : إِنَّ اللهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوْا حَتَّى لاَ يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَ لاَ يَفْخَرُ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ . رواه مسلم و أبو داود و أبن ماجه

Dari Iyadh bin Himar r.a  berkata : Rosulullah saw. bersabda : Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku supaya kalian  berlaku tawadlu (rendah hati) hingga tidak ada seseorang yang menganiaya orang lain dan tidak ada seseorang yang sombong terhadap orang lain.[13]

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قال : مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ و مَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَ مَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ إلا رَفَعَهُ . رواه مسلم و الدارمى و أحمد

Dari Abu Hurairah r.a bahwasanya Rosulullah saw bersada : Harta itu tidak akan berkurang dengan disedekahkan dan Allah tidak menambah pada hamba-Nya yang mau memberi maaf kecuali kemulyaan dan tidaklah seseorang itu  berlaku tawadlu kecuali Allah akan meninggikan derajatnya.[14]

عن أبى سعيد الخدري رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : من توضع لله درجة رفعه الله درجة حتى يجعله فى عليين و من تكبر على الله درجة وضعه الله درجة حتى يجعله فى أسفل السافلين . رواه أحمد و ابن ماجه

Dari Abu Said Al Khudriyi r.a dari Rosulullah saw bersabda : “Barang siapa yang tawadlu’ kepada Allah satu derajat, maka Allah akan meninggikan satu derajat sehingga Ia jadikan pada tingkatan Iliyyin (golongan yang tinggi). Dan barang siapa yang takabur (sombong) kepada Allah satu derajat, maka Allah akan merendahkannya satu derajat sehingga ia berada pada derajat asfala safiliin (derajat yang paling rendah).[15]

عن عبد الله بن مسعود قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ألا أخبركم بمن يحرم على النار و بمن تحرم عليه النار ؟ على كل قريب هين سهل . رواه الترمذي 
Dari Ibnu Mas’ud berkata Rosulullah saw bersabda : “Maukah aku kabari tentang orang yang haram baginya neraka dan neraka haram baginya? Yaitu setiap orang yang dekat (dengan manusia), berlaku rendah dan mudah.[16]

عن سهل بن معاذ بن أنش بن الجهني عن أبيه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : من ترك اللباس تواضعا لله و هو يقدر عليه  دعاه الله يوم القيامة على رؤوس الخلائق حتى يخيره من أي حلل  الإيمان شاء يلبسها . رواه الترمذي

Dari Sahl bin Mu’adz bin Anas bin Al Juhniy dari bapaknya bahwa Rosulullah saw besabda : Barang siapa meninggalkan baju (yang bagus, mahal dan mentereng) karena tawadlu kepada Allah padahal sebenarnya ia mampu untuk melakukannya maka Allah akan mendo’akannya pada hari kiamat di atas kepala seluruh makhluk, sehingga ia memiliki kebebasan memilih baginya dari perhiasan-perhiasan orang-orang beriman  sesukanya.[17]
عن ابن مسعود رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ . رواه مسلم

Dari Ibnu Mas’ud berkata, bersabda Rosulullah saw : “Tidak  akan masuk jannah orang yang di dalam hatinya kesombongan meskipun seberat dzarroh (biji sawi).”[18]

III. PERKATAAN SALAFUS SHALIH TENTANG TAWADLU


  1.  Abu Bakar berkata : “Kami mendapatkan kemulyaan pada taqwa, kekayaan pada keyakinan dan kehormatan pada tawadlu.”[19]
  2.  Amirul Mukminin Umar bin Khattab berkata : “Bila seorang hamba tawadlu kepada Allah, tentu Allah akan meninggikan hikmah dirinya. Berdirilah tentu Allah akan meninggikanmu. Namun bila dia takabur dan merasa tinggi kedudukannya, tentu Allah akan menghukumnya dengan hukuman yang keras di bumi. Hinakanlah, tentu Allah akan menghinakan kamu. Dia merasa dirinya besar padahal dia hina di mata manusia, bahkan ia lebih rendah dari seekor babi di mata mereka.” [20]
  3.  Umar bin Abdul Aziz berkata : Sebaik-baik manusia adalah orang yang di sisi Allah berlaku tawadlu.[21]
  4.  Urwah bin Zubair r.a. berkata : “Aku pernah melihat Umar bin Khattab memanggul segeriba air . Maka kukatakan kepadanya : ‘Wahai amirul mukminin, tidak sepantasnya engkau melakukan hal itu  Umar menjawab, “Ketika ada beberapa utusan yang datang kepadaku dalam keadaan tunduk dan patuh, maka ada sedikit kesombongan yang merusak dalam diriku. Namun aku dapat mengenyahkannya.” [22]
  5.   Fudhail bin Iyadh pernah ditanya tentang makna tawadlu, maka beliau menjawab:

تَخْضَعُ لِلْحَقِّ وَ يَنْقَادُ لَهُ وَ يَقْبَلُهُ مِمَّنْ قَالَهُ

“Artinya tunduk kepada kebenaran dan patuh kepadanya serta mau menerima kebenaran itu dari siapa pun yang mengucapkannya.” [23]
  6.   Ibnu  ‘Atho’ berkata : “ Tawadhu’ artinya mau menerima kebenaran dari siapapun. Kemuliaan ada pada tawadhu’. Maka siapa yang mencarinya dalam kesombongan berarti dia seperti mencari air dari kobaran api.[24]
  7.   Seorang salaf berkata :

التَّوَاضَعُ أَنْ لاَ تَرَى لِنَفْسِكَ قِيْمَةً فَمَنْ يَرَى لِنَفْسِهِ قِيْمَةً فَلَيْسَ لَهُ فِى التَّوَاضُعِ نَصِيْبٌ

“Tawadlu adalah jika engkau tidak melihat ada kelebihan (keistimewaan). Maka barang siapa yang masih melihat pada dirinya ada keistimewaan (nilai) maka belum ada pada dirinya sikap tawadlu.[25]
  8.   Ibrahim bin Syaiban berkata : As Syarof (kemulyaan) ada dalam tawadlu, Al ‘izz (ketinggian) ada dalam taqwa dan AL Hurriyah (kebebasan) ada dalam qona’ah.[26]
  9.   Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : “Takabur lebih jahat daripada syirik. Sebab orang yang takabur merasa dirinya hebat untuk beribadah kepada Allah. Sedangkan orang musyrik masih mau beribadah kepada Allah dan kepada selainnya.”[27]
10. Syaikh Al Harowy (pengarang Manazilus Sairin) berkata : “Yang dimaksud tawadlu ialah jika hamba tunduk kepada kekuasaan Allah.”
11. Imam Syafi’i berkata : “Tawadlu merupakan akhlaq yang mulia, takabur merupakan tabi’at yang keji (hina). Ketawadluan akan menghasilkan kecintaan dan qona’ah (merasa cukup) akan menghasilkan kelapangan (kegembiraan)”.
12. Imam Syafi’i juga berkata : “Manusia yang paling tinggi nilai (derajatnya) adalah siapa yang tidak melihat pada dirinya ada nilai. Dan orang yang paling mulia adalah yang tidak melihat pada dirinya ada kemuliaan.”[28]
13.Yusuf bin Asbat ditanya tentang apa yang dimaksud tawadlu yang sebenarnya itu. Ia berkata : “Engkau tidak menemui seseorang kecuali engkau melihatnya ia mempunyai kelebihan atas dirimu.”[29]
14.Umar bin Qois berkata : “Ada tiga perkara dari induk rendah hati : mendahului salam kepada orang yang dijumpai senang duduk bersama orang biasa dari pada para pembesar tidak suka riya’ dalam beribadah kepada Allah.
15.  Bakar bin Abdullah berkata :
إِذَا رَأَيْتَ مَنْ هُوَ أَكْبَرُ مِنْكَ فَقُلْ هَذَا سَبَقَنِي بِالإِيْمَانِ وَ الْعَمَلِ الصَّالِحِ وَ هُوَ خَيْرٌ مِنِّي وَ إِذَا رَأَيْتَ مَنْ هُوَ أَصْغَرُ مِنْكَ فَقُلْ سَبَقْتُهُ إِلَى الذُّنُوْبِ وَ الْمَعَاصِى فَهُوَ خَيْرٌ مِنِّيْ
“Jika kamu melihat orang yang lebih tua darimu, maka katakan :  “Orang itu lebih dulu beriman dan beramal sholeh, maka ia lebih baik dariku.” Jika bertemu dengan orang yang lebih muda darimu katakan : “Sesungguhnya aku lebih dulu dalam berbuat dosa dan bermaksiat, maka ia lebih baik dariku. Jika engkau lihat temanmu memujimu dan mengagungkanmu maka katakan, ini adalah karunia yang telah diambil dariku. Dan jika engkau lihat diantara mereka mencelamu maka katakan: ini adalah akibat dosa yang telah saya perbuat.” [30]
16. Abu Zaid Al Bustomi pernah ditanya, kapan seorang itu disebut mutawadli (orang yang tawadlu)? Maka jawabnya, “Jika ia tidak melihat pada dirinya punya kedudukan dan tidak melihat bahwa ada orang lain yang lebih jelek dari dirinya.”[31]
17. Abdullah bin Mas’ud r.a ketika dimintai seseorang untuk mengajarkan kepadanya beberapa kalimat yang ringkas tapi padat dan bermanfaat ia berkata : “Janganlah engkau menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, dan bergeraklah bersama Al Qur’an kemanapun dia bergerak. Jika ada orang yang datang kepadamu dengan membawa kebenaran maka terimalah darinya meskipun ia itu orang yang jauh darimu dan kau benci. Dan jika ada orang yang datang kepadamu dengan membawa kebatilan maka tolaklah meski ia itu orang yang engkau cintai dan dekat denganmu.”[32]

IV. POTRET KETAWADLUAN ROSULULLAH SAW

1.                           Suatu saat Aisyah r.a ditanya tentang apa yang diperbuat Rosulullah saw di rumahnya. Maka katanya : Beliau melaksanakan tugas-tugas keluarganya, jika datang waktu shalat beliau berwudlu dan keluar untuk menunaikan shalat.   ( HR. Bukhori )
2.                          Berkata Anas r.a. : “Tidak ada orang yang kucintai melebihi kecintaanku terhadap Rosulullah saw . Orang-orang ketika melihat Rosulullah saw datang mereka tidak berdiri untuk menyambutnya karena mengetahui bahwa beliau tidak menyukainya.”( HR.Ahmad, Tirmidzi dengan sanad shohih )
3.                           Adalah beliau Rosulullah saw suka menziarahi (berkunjung) kepada orang-orang Anshar, memberi salam kepada anak-anak kecil mereka dan mengusap kepala-kepala mereka.( HR. An Nasa’i, shohih )
4.                          Adalah beliau mendatangi orang-orang yang lemah dari kalangan kaum muslimin dan menziarahinya dan mengunjungi orang-orang yang sakit serta ikut mengiringkan jenazah mereka. ( HR. Abu Ya’la, Shohih )
5.                          Adalah beliau banyak berdzikir, sedikit bergurau, memanjangkan shalat, memendekkan khutbah, tidak berlaku sombong, berjalan bersama janda, orang miskin dan hamba sahaya sampai-sampai beliau mau melayani kemauan dan kebutuhannya.( HR. An Nasa’i, shohih )
6.                          Beliau duduk di atas tanah dan makan di atas tanah. (HR. At Thobroni, shohih)
7.                          Beliau tidak pernah menolak wangi-wangian. (HR. Bukhori)
8.                          Jika melewati anak-anak kecil yang sedang  bermain maka beliau mengucapkan salam kepada mereka. (HR. Muslim)
9.                          Dari Jabir r.a. berkata, Rosulullah saw datang menemuiku bersama Abu Bakar, kedua-duanya berjalan kaki . (HR. Bukhori)
10.                        Anas bin Malik berkata : Ada seorang bukan perempuan Madinah memegang tangan Rosulullah saw. kemudian mengajaknya pergi kemana ia suka. (HR. Bukhori)
11.                        Jika beliau makan, maka beliau menjilati jari-jarinya yang tiga. (HR. Muslim)
12.                        Tatkala beliau masuk kota Makkah pada hari penaklukannya (Fathul Makkah), maka dagu beliau menyentuh sandaran pelana bagian depan karena merunduk dan merendahkan diri kepada Dzat yang telah menggunakan pakaian kemuliaan itu padanya yang justru orang lain akan mendongakkan kepalanya jika mendapatkannya dan sangat  diimpi-impikan para raja.[33]
13.                        Beliau tidak pernah lama memandang kepada wajah seseorang, menundukan pandangan, lebih banyak memandang ke arah tanah dari pada ke langit.[34]
14.                        Aisyah berkata : Beliau biasa menambal terompahnya, menjahit bajunya, melaksanakan pekerjaan dengan tangannya sendiri seperti yang dilakukan seseorang diantara kalian di dalam rumahnya. Beliau sama dengan orang lain, mencuci pakaiannya, memerah susu dombanya dan membereskan urusannya sendiri.[35]
15.                        Sewaktu Rosulullah saw naik haji, beliau duduk di atas pelana onta yang telah usang dan memakai selimut yang harganya murah, tidak sampai 4 dirham. Waktu itu beliau berdo’a : “Allohummaj’alhu Hajjan la riyaan fihi wala sum’ah” (Ya  Allah jadikanlah haji ini haji yang tidak disentuh oleh riya dan sum’ah padanya. (HR. Bukhori)
16.                        Nabi saw. diajak makan roti dari syair (gandum yang kasar) sedangkan lauknya minyak yang sudah berubah (karena lamanya). Namun demikian, beliau tetap mengabulkan ajakan itu. Dan sungguh beliau mempunyai baju besi yang tergadai kepada seorang Yahudi, bahkan sampai hari wafatnyapun beliau tidak menebusnya kembali. (HR. Bukhori, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah)
17.                        Nabi saw. bersabda : “Janganlah kalian berlebihan memuji daku sebagaimana kaum Nasrani yang berlebihan memuji anak Maryam (Isa). Aku hanyalah seorang hamba, oleh sebab itu katakanlah (panggilah) aku Abdullah (hamba Allah) dan rosul-Nya (utusan-Nya). (HR. Bukhori, Darimi dan Ahmad)
18.                        Jikalau beliau duduk bersama sahabat-sahabatnya beliau ikut bercampur di tengah-tengah mereka, seolah-olah beliau salah seorang dari sahabat-sahabatnya itu saja, tidak bisa dibedakan. Sehingga kalau ada orang asing yang belum mengenalnya tentu tidak mengetahui yang mana rosul. Sehingga kadang-kadang orang yang baru datang terpaksa harus menanyakan manakah Muhammad yang bergelar Rosulullah itu. [36]
19.                   Ali bin Abi Thalib berkata : “Rosulullah tidak berdiri dan tidak duduk melainkan berdzikir kepada Allah. Bila datang ke suatu kaum maka beliau akan duduk pada deretan majlis yang terakhir dan beliau memerintahkan hal itu. Beliau berikan kepada setiap teman semajlisnya bagiannya masing-masing, sehingga orang yang semajlis dengan beliau tidak ada yang menganggap temannya lebih mulia dari dirinya. Barang siapa yang menghendaki duduk bersama beliau atau mengadukan kepada beliau suatu hajat maka beliau akan melayaninya dengan sabar sampai orang itu sendiri yang beranjak. (Karena telah merasa puas) dari padanya. Barang siapa yang meminta sesuatu kepada beliau, beliau tidak akan menolaknya, diberinya apa yang diminta (apabila tidak ada) diucapkannya kata-kata yang lembut. (yang membesarkan hati). (HR. Thobroni, Tirmidzi dan Baihaqi)

V. POTRET KETAWADLUAN PARA SALAF


1.      Abu Bakar As Shiddiq r.a. biasa membeli kain di pasar untuk diperdagangkan di sana. Umar bin Khattab juga biasa membeli daging dan menentengnya untuk dibawa pulang ke rumah. Ali bin Abi Thalib juga membeli korma serta membawanya sendiri dengan mantelnya. Lalu ada seseorang yang berkata kepadanya, “Bagaimana jika kubawakan kepadamu barangmu?” dia menjawab, “Tidak, pemilik barang lebih berhak untuk membawanya sendiri.”[37]
2.      Ibnu Sa’ad dan Ahmad serta lainnya mentakhrij dari Abdullah Ar Ruumi, ia berkata : “Utsman bin Affan r.a menyediakan sendiri air wudlu pada waktu malam. Ada orang berkata kepadanya, “Andaikata engkau memerintahkan sebagian pembantu, tentu mereka akan mencukupkannya bagimu.” Utsman berkata, “Tidak, waktu malam bagi mereka adalah untuk beristirahat.” [38]
3.      Suatu hari Abu Hurairah pulang dari pasar sambil membawa seikat kayu bakar, yang saat itu ia menjadi gubernur Khalifah Marwan. Lalu ada seseorang yang berkata, “Beri jalan kepada sang gubernur.” [39]
4.      Abdullah bin Abi Hudzail berkata : “Saya melihat Amar bin Yasir membeli makanan ternak dengan satu dirham, kemudian ia pikul sendiri di atas punggungnya padahal ia adalah amir Kufah. [40]
5.      Dari Ibnu Sirin  bahwa Umar menulis surat kepada rakyatnya ketika Hudaifah berkuasa di Madain  : “Dengar dan taatlah serta berilah setiap apa yang diminta.” Maka Hudaifah keluar untuk menemui Umar dengan mengendarai Himarnya yang di bawah pelananya ada bekal yang telah ia siapkan. Ketika sampai ke tujuan iapun disambut oleh kepala negeri sedang ia memegang secui roti dan kue daging.[41]
6.       Dari Abu Rofi’ berkata : Marwan mengangkat Abu Hurairah sebagai gubernur di Madinah. Suatu hari ia mengendarai himarnya sedang di atas kepalanya setumpuk kayu bakar. Ketika berjalan ia bertemu dengan seseorang, maka berkatalah orang tersebut. “Beri jalan, gubernur datang !” [42]
7.       Umar bin Abdul Aziz mendengar khabar bahwa seorang anaknya membeli sebuah cincin seharga seribu dirham. Maka Umar menulis surat kepadanya yang isinya : “Aku mendengar engkau telah membeli cincin seharga seribu dirham. Jika suratku ini telah kau baca maka jualah cincin itu dan belikan makanan untuk kau berikan kepada seribu orang. Lalu belilah cincin lain dari besi seharga dua dirham. Tulislah dalam cincin itu kalimat “Allah merahmati seseorang yang mengetahui nilai dirinya”.[43]
8.       Adalah Ahmad bin Hambal keluar dari rumahnya ketempat penjual sayur, ia membeli ubi lobak, kayu dan lainnya kemudian ia membawanya dengan tangannya sendiri. [44]
9.       Bahwa Ahnaf bin Qais bekuasa di Khurasan. Pada suatu malam yang dingin ia mimpi basah (junub), meski demikian ia tidak membangunkan pembantunya. Namun ia pecahkan es dengan tangannya sendiri kemudian mandi dengannya[45].
10.    Ibnu Jabir berkata, Yazid bin Abdil Malik datang ke majlis Makhul, maka kamipun bersiap-siap untuk melapangkan majlis. Maka ia berkata : “Tidak usah kalian berbuat demikian, biar dia bisa belajar bagaimana bertawadlu”[46] 
11.   Abdullah bin Zaid berkata, kami sedang bermajlis dengan Makhul dan diantara kami ada Sa’id bin Abdul Aziz, maka kami melihat ia menuangkan air (minum) di majlis tersebut.[47]
12.     Suatu kali Abu Dzar r.a. mengejek Bilal r.a.  karena kulitnya yang hitam, akhirnya iapun menyesal kemudian ia rebahkan dirinya ke tanah dan bersumpah : “Saya tidak akan mengangkat kepala saya sampai Bilal menginjak pipiku dengan kakinya.” Demikianlah ia tidak mengangkat kepalanya hingga akhirnya Bilal melaksanakan perintah Abu Dzar tersebut. [48]
13.    Diriwayatkan bahwa Umar bin Abdul Aziz suatu malam kedatangan seorang tamu, ketika itu ia sedang menulis. Tiba-tiba lampu yang dipakai untuk menerangi ruang tersebut hampir saja mati (karena minyaknya habis). Maka berkatalah tamu tersebut, “Bolehkah saya memperbaiki lampu tersebut?” Umar berkata, “Bukanlah sifat orang yang mulia kalau ia minta bantuan pada tamunya.” Tamu tersebut berkata, “Kalau begitu biar saya bangunkan pelayan tuan.” Umar berkata, “Jangan, ia baru saja tidur!”kemudian ia mengambil botol minyak dan memenuhi lampu yang hampir mati tersebut dengannya. Ketika tamu tersebut berkata keheranan : “Engkau kerjakan pekerjaan itu sendirian wahai Amirul mukminin? Maka jawab Umar : “Ketika saya datang (untuk mengerjakan pekerjaan tadi) saya adalah Umar, dan ketika saya kembali saya pun tetap Umar, tidak berkurang dariku sedikitpun. Sebaik-baik manusia adalah yang bersikap tawadlu.[49]
14.     Yunus bin Bukair dari Ibnu Ishaq berkata ; "Saya telah melihat al-Qasim bin Muhammad sedang shalat. Ketika itu datanglah kepada beliau seseorang dari kampung, lalu dia berkata ; Manakah yang lebih pandai kamukah (seraya menunjuk ke al-Qasim) atau Salim, ? Maka jawab beliau ; Maha suci Allah seluruhnya akan menjadikan kamu menjadi baik dengan ilmu itu. Lalu dia berkata ; Mana diantara kamu yang lebih pinter ? . Jawab beliau : Maha suci Allah. Lalu diulanginya jawaban tersebut dan kata beliau ? Itu Salim telah datang. Pergilah kamu menemuinya dan bertanyalah kamu kepadanya !. Maka dia pun kemudian berdiri menuju ketempat Salim. Berkata Ibnu Ishaq, Beliau enggan menyebutkan : Saya lebih pandai, demi kesucian dirinya (keikhlasan) Sedangkan enggan menyebutkan Salim lebih tahu dari aku karena ia takut terjerembab kedalam kebohongan. Sebenarnya al-Qasim dialah yang lebih pandai daripadanya.(Salim).[50]

VI. DERAJAT TAWADLU


Tersebut dalam kitab ‘Madarijus Salikin’ tentang derajat Tawadlu :
1.      Tawadlu kepada agama
Maksudnya adalah tunduk kepada apa yang dibawa Rosulullah saw . dan pasrah kepadanya. Hal ini bisa dilakukan dengan tiga cara :
 a. Tidak menentang sedikitpun darinya dengan empat macam penentangan yang biasa dilakukan di dunia ini, yaitu dengan akal, qiyas, perasaan dan siasat (politik).
Pertama : biasa dilakukan oleh orang-orang dari kalangan ahli kalam yang menentang nash-nash wahyu dengan akal mereka yang rusak. Mereka mengatakan : jika ada dalil naqli bertentangan dengan dalil aqli maka kami  kedepankan yang aqli ( akal, pikiran).
Kedua :      di lakukan oleh orang-orang sombong dari kalangan ahli fiqh yang mengatakan : jika ada pertentangan antara qiyas, ro’yu dan nash maka kami kedepankan qiyas.
Ketiga :      di lakukan oleh orang-orang sombong dari kalangan orang-orang sufi dan zuhud. Mereka katakan : jika ada pertentangan antara perasaan dan perintah maka  kami kedepankan perasaan.
Keempat : di lakukan oleh orang-orang sombong dari kalangan pemimpin dan pejabat yang mengatakan : jika ada pertentangan antara syare’ah dan siyasah (politik) maka kami kedepankan politik.
  4 golongan ini adalah termasuk kategori orang-orang yang sombong. Sedang tawadhu’ adalah jika kita terbebas darinya.

b.  Tidak menuduh satu dalilpun dari dalil-dalil agama dengan menganggapnya sebagai dalil yang tidak tepat, tidak relevan, kurang atau terbatas, atau dalil lain lebih baik darinya.
c.  Tidak ada pikiran sedikitpun untuk menyangkal nash, baik di dalam batinnya, dengan perkataannya maupun perbuatannya.

2.      Tawadlu kepada orang muslim
Maksudnya meridloi orang muslim yang lain sebagai saudaranya sesama hamba Allah, sebagaimana Allah telah ridla kepadanya. Tidak menolak kebenaran sekalipun datang dari musuh dan menerima maaf dari orang yang meminta maaf kepadanya.
3.      Tawadlu kepada Allah
Maksudnya tidak menganggap pada dirinya punya hak atas Allah disebabkan amalan yang telah ia kerjakan. Karena apa yang ia kerjakan adalah semata-mata perhambaannya kepada Allah, kefakiran di hadapan-Nya dan ketundukannya pada-Nya. Maka kalau masih ada perasaan bahwa dirinya masih punya hak atas Allah maka dikhawatirkan rusak dan cacatlah ibadahnya dan kemungkinan ia akan mendapatkan murka dari Allah. Karena pada hekekatnya, jika Allah memberi nikmat pada hambanya, itu semua adalah karunia Allah semata, bukan semata-mata karena perbuatan yang ia lakukan.[51]

VII. HAKEKAT TAWADLU’ DAN BAHAYANYA TAKABUR

           
Ruh (Inti) tawadlu’ adalah tawadlu’nya seorang hamba terhadap suatu kebenaran. Yaitu hendaknya seorang hamba didalam menyambut suatu kebenaran yang datang kepadanya itu dengan ketundukan, kepatuhan dan  kerendahan hati. Dimana ia posisikan kebenaran tersebut terhadap diruinya sebegaimana berkuasanyaseorang raja terhadap kerajaan dan para rakyatnya. Dengan cara inilah sifat tawadlu’ tersebut dapat tercapai.
   Sehingga tepatlah sabda Rasulullah SAW yang menafsirkan alkibr (sombong) yang merupakan lawan tawadlu’ dengan ucapan
الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ (رواه مسلم أبوداود والترمذي)
   Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia (HR Muslim. Abu Dawud, dan Tirmidli)
Maksud بطر الحق adalah menolak kebenaran dan mengingkarinya, serta mempertahankan (pendapatnya) dengan hatinya sebagaimana seseoran yang mempertahankan dirinya dari serangan musuhnya.
Maksud غمط الناس adalah meremehkan dan menganggap rendah mereka. Jika seseoorang telah meremehkan dan memandang rendah orang lain maka ia akan menghilangkan hak-hak mereka serta mengingkari dan menganggap mereka kecil dan hina.
Jika ada seseorang berada diatas suatu kebenaran, maka jiwa yang sombong- apalagi yang rusak- tidak akan mau mengakui kebenaran yang ada pada diri orang tersebut, kalau toh mau menerima maka ia menerimanya dengan sikap angkuh dan sombong.
Dari sini jelaslah bahwa hakekat dari sifat tawadlu’ adalah tunduknya seorang hamba terhadap suatu kebenaran dengan sikap pasrah dan patuh tanpa membantah dengan fikiran dan pendapat darinya.[52]
Sedang takabur adalah kebaikan sikap tawadlu’. Jika ada orang yang menghinakan saudaranya sesama muslim, melihatnya dengan mata ejekan, menganggap bahwa dirinya adalah lebih baik dari yang lain, suka menolak kebenaran sedangkan ia tahu bahwa itulah yang sesungguhnya benar, maka jelaslah bahwa orang tersebut masih dihinggapi penyaki t kesomboongan dan mengabaikan hak-hak Allah Ta’ala serta tidak mentaati apa yang diperintahkan oleh Nya.
Bahaya sifat takkabbur itu amat besar sekali dan berakibat luar biasa. Bagaimana tidak besar sedangkan Rasulullah SAW telah bersabda:
لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ (رواه مسلم )
Tidak akan masuk jannah seorang yang ada didalam hatinya seberat atom  dari sifat kibr (HR. Muslim)
Kenapa sifat takabur ini menjadi penghalang antara seseorang dengan jannah ? Sebabnya tiada lain, karena takabur itu pulalah yang merupakan batas pemisah antara seseorang dengan akhlaq dan budi pekerti kaum mukminin seluruhnya.
Akhlaq serta budi pekerti yang baik adalah merupakan pintu-pintu menuju jannah, sedangkan takabur itu sendiri yang menyebabkan tertutupnya pintu-pintu tersebut. Takabur adalah merasa diri lebih tinggi dari yang lain. Selain itu juga di sebabkan karena seseorang yang takabur itu pasti tidak mempunyai rasa untuk mencintai sesama saudaranya yang muslim sebagaimana cintanya kepada diri sendiri. Orang yang takabur tidak akan bisa merendahkan diri sebagaimana wajarnya yang diperintahkan oleh agama, sedangkan tawadlu adalah pokok dari segala akhlaq dari orang-orang yang bertaqwa kepada Allah Ta’ala. Orang yang mempunyai sifat takabur juga tidak dapat meninggalkan sifat dendam dan tidak dapat juga untuk dipercaya, baik perbuatan atau ucapannya. Ia tidak juga dapat memberi nasehat yang baik dan berbuat jujur. Bahkan tidak dapat pula diberi nasehat atau diberlakukan secara baik dan jujur pula. Ia sukar meninggalkan kemarahan, sukar menahan amarahnya, sukar pula melenyapkan kedengkian dalam hatinya, juga tidak dapat menghindarkan diri dari kegemaran mengejek orang lain atau kesukaan mengumpat.
Sehingga tidak ada satupun akhlaq madzmumah (budi pekerti yang buruk) yang tidak dimiliki oleh orang yang sombong itu. Ia terpaksa menggunakan semua yang buruk itu demi untuk menjaga kemulyaannya. [53]

VIII. BEBERAPA LATIHAN UNTUK MENUMBUHKAN SIKAP TAWADLU


1.      Hendaklah mengadakan diskusi dan musyawarah dengan kawan-kawannya mengenai suatu masalah atau persoalan. Jika sekiranya dari salah seorang  kawannya itu terdapat suatu pendapat yang benar tetapi oleh karena sesuatu tiba-tiba hatinya berat untuk menyetujui atau mengikutinya dan tidak pula mau mengucapkan terima kasih pada peringatannya, maka itulah suatu tanda bahwa dalam jiwanya masih ada perasaan takabur atau sombong. Maka hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dan berusaha untuk segera mengobati penyakit tersebut dan menumbuhkan pada dirinya rasa tawadlu.
2.      Berkumpul bersama kawan-kawannya dan siapapun juga dalam suatu pertemuan-pertemuan atau acara-acara tertentu, lebih mengutamakan orang lain dari pada dirinya, suka berjalan di belakang mereka, dan mau duduk di tempat yang tingkatannya lebih rendah dari sahabat-sahabatnya itu. Jikalau masih berat maka teranglah bahwa pada dirinya masih ada rasa takabur.
3.      Menghadiri undangan orang–orang  miskin yang mengundangnya, mau berjalan di pasar untuk mengantarkan kawan yang memerlukan sesuatu atau memenuhi keperluan-keperluan sahabatnya. Jikalau hal itu belum ia lakukan berarti masih ada rasa sombong dalam hatinya.
4.      Tidak malu-malu untuk membawa keperluannya sendiri, keperluan keluarganya atau kawan-kawannya dari pasar, toko, ke rumahnya. Jikalau dia masih enggan melakukannya, teranglah bahwa pada dirinya masih terpendam sikap takabur.
Ali r.a berkata : “Seseorang yang sempurna itu tidak akan berkurang kesempurnaannya dengan sebab membawa perbelanjaan yang diperuntukkan keluarganya di rumah.”[54]

Selanjutnya barang siapa yang hendak mempunyai sikap tawadlu maka hendaklah meniru dan mengikuti jejak langkah Rosulullah saw. Sesungguhnya yang tidak mau melakukan yang demikian itu maka alangkah bodohnya ia. Bukankah Rosulullah saw itu sebaik-baik contoh bagi umatnya yang mempunyai derajat dan kedudukan yang amat tinggi di sisi Roobnya. Maka kenapa kita enggan mencontohnya? Bukankah tidak ada kemulyaan melainkan dengan jalan mengikuti tingkah laku beliau saw. ?

Wallohu a’lam bis showab.



[1] Al Qomus Al Muhith, III/125
[2]  Aunul Ma’bud, XIII/238
[3]  Tahdzib Madarijus Salikin, II/280
[4]  Tahdzib Madarijus Salikin, II/281
[5]  Dalilul Falihin, 53
[6]  Tayisirul ‘Aliyil Qodir, III/319
[7]  Fathul Qodir , III/176
[8]  Ad Dur Mantsur, V/97
[9]  Taisirul Aliyul Qodir, II/61
[10]  Fathul Qodir, II/64
[11]  Ad Dur Al-Manstur, VI/444
[12]  Taisirul  ‘Aliyil Qodir, III/406
[13]  HR. Muslim no. 46; Abu Dawud, Adab no. 40; Ibnu Majah, Zuhud no. 16, 23
[14] HR. Muslim, Kitabul Bir : 69; At Tirmidzi, Kitabul Bir: 82; Ad Darimi, Kitabuz Zakat : 34; Muwatha’, Shadaqoh : 12; Ahmad, II/235, 386, 438
[15]  HR. Ahmad, III/76; Ibnu Majah, Zuhud no. 16
[16]  HR. At Tirmidzi, 2488
[17]  HR. At Tirmidzi, 2481
[18]  HR. Muslim
[19]  Buyut la Tadkhuluha Syayathin ‘edisi terjemahan’, 140
[20]  Buyut la Tadkhuluha Syayathin ‘edisi terjemahan’, 140
[21]  Minhajul Muslim, 161
[22]  Tahdzib Madarijus Salikin, II/681
[23]  Tahdzib Madarijus Salikin, II/680
[24]  Tahdzib Madarijus Salikin, II/681
[25]  Tahdzib Madarijus Salikin, II/680
[26]  Tahdzib Madarijus Salikin, II/681
[27]  Madarijus Salikin (terjemahan), 266
[28]  Tadzib Siyaru A’lam An-Nubala’, IV/743
[29]  Tahdzib Siyaru A’lami An-Nubala’, IV/702
[30]  Sifatus Shafwah, III/248; Aina Nahnu min Akhlaqis Salaf, 18
[31]  Dalilul Falihin, V/50
[32]  Sifatus Shafwah, I/419
[33]  Fawaidul Fawaid, Ibnu Qoyyim
[34]  Rohiqul Makhtum, 482
[35]  Misykatul Mashabih, II/520
[36]  Mau’idlotul Mukminin, 117
[37]  Mukhtashor Minhajul Qoshidin, 218
[38]  Al Kanzu,V/48
[39]  Mukhtashor Minhajul Qoshidin, 218
[40]  Tahdzib Siyaru A’lami An Nubala’,  IV/473
[41]  Tahdzib Siyaru A’lami An Nubala’,  II/163
[42]  Tahdzib Siyar A’lami An Nubala’, VI/201
[43]  Madarijus Salikin ‘terjemahan’, 265
[44]  Tahdzib Siyar A’lami An Nubala’,  IV/815
[45]  Tahdzib Siyar A’lami An Nubala’,  III/329
[46]  Tahdzib Siyar A’lami An Nubala’ : I/481
[47]  Tahdzib Siyar A’lami An Nubala’, II/611
[48]  Tahdzib Madarijus Salikin, II/681
[49]  Minhajul Muslim, 181
[50]  Sifatus Shofwah, V/56
[51]  Lihat Tahdzib Madarijus Salikin, 683-688
[52] Tahdzib Madarijus Salikin, II/682

[53]  Tahdzib Mau’idlotul Mukmini, 306 - 307
[54]  Tahdzib Mau’idlotul Mukminin, 322-323 dan hal, 313

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar